Oleh: Pauzan. S Tahukah kau, ketika jemariku terus saja menari di atas tuts keyboard komputer lawasku, sekan tak mau henti, tak mau kompromi dengan pantatku yang terbenam pada lantai dingin kamarku. tahuka kau? ketika kakiku mengeras kesemutan pada duduk silaku yang kaku. tahukah kau? Malam ini langit berwarna, bukan hitam, tidak juga putih. Angin malam seakan hilang dari bumi ini, tak berhembus walau sepoi ringan melenakan. Ya, udara seakan hampa walau ia dingin menggigilakan tubuh hangatku. Tentu kau tau kalau hangat tubuhku. Bukankah waktu itu kita pernah berbagi kehangatan. Aku akan selalu rindu suasana itu. Tapi malam hari ini begitu dingin.Tubuhku seperti kaku, kelu, walau jemari lincah saja menari.