Belantara Raya
oleh: Pauzan S.
Aku diantara mereka seperti sebuah keberadaan nyata ditengah
belantara hidup, mencari satu relitas yang menjadi tujuan individu yang
mengenal tahu asalnya. Aku seperti sudah berada di depan gerbang istana tujuan
para penghuni belantara hutan yang kejam. Sedangkan mereka masih kasak kusuk
mencari jalan menuju istana itu. Sibuk mencari setapak yang lurus, konsisten
dengan keyakinan, menguak tanda-tanda serta petunjuk-petunjuk rahasia menuju
istana, yang kini aku berada di hadapannya.
Aku masih tak percaya dengan apa yang dihadapanku. Rumah besar
berwarna putih. Megah. Kokoh. Tapi ia tak angkuh seperti apa yang pernah aku
saksikan di tempatku. Rumah inilah tujuan kami sebenarnya. Walau yng tahu hanya
segelintir saja. Ya, segelintir yang sadar, bahwa di belantara ini hanya ada
satu rumah yang menjadi tujuan. Rumah itu sudah ada di hadapanku. Besar. Megah.
Kokoh. Dan ia tak angkuh.
Halamannya penuh dengan bebagai macam tanaman. Berbagai macam
bunga, yang sekalipun belum pernah aku lihat sebelumnya. Berbagai macam tanaman
yang sangat menawan, yang belum pernah sekalipun ditemukan oleh ilmuwan di
tempatku. Lengkap diantara tumbuhan itu kolam berair jernih yang dasarnya
kelihatan berhias batu-batu indah berwarna warni. Berbagai macam ukuran.
Perasaan yang hadir silih berganti, terkadang menjadi satu dan sulit untuk di
ceraikan. Kekaguman serta keterkejutan, terpana serta terpesona, tidak percaya.
Inikah realitas sesungguhnya? Inikah tujuan utama? Atau inikah
muasal dari jagat rimaba yang terbentang, yang pada mulanya hanya sebuah istana
megah dengan taman yang begitu indah. Tanya dan fikir yang selama ini hadir
seperti takluk dan tunduk bersimpuh dihadapan nurani. Nurani yang selama ini
terabai, terbuai kepada hanya ada di sekitar, terlihat, tersentuh. Ah,
hasratlah kemudian berkuasa. Ingin kembali atau ingin memasuki istana ini. Lalu
siapakah aku yang bisa tiba-tiba hadir disini dihadapan istana megah. Sedangkan
yang lain telah berjuang dengan segenap daya bahkan belum jua mengerti jalan
mana yang akan mereka tempuh.
Baiklah aku jelaskan tentang rimba belantara raya. Ia adalah rimba
yang liar. Didalamnya banyak tertumpah darah. Yang kuat dia berkuasa, yang
cerdik dia yang selamat, yang berusaha dia yang memegang nyawa. Rimbanya lebat.
Sehingga cahaya kadang tak kuasa menyelinap. Pohonnya kokoh. Tinggi. Rimbun
akan dedaunan berwarana warni. Buahnyapun lebat bermacam rupa. Bermacam warna
juga. Satwanya pun tak kurang beragam, dari yang melata hingga yang bisa
terbang, dari yang bertaring hingga yang hanya bisa memapah lemah. Dari yang
licin sampai yang berbulu. Semua ada. Semua berperan. Semua bermanfaat bagi
kami yang tinggal didalamnya. Ya kami yang sebangsa mereka juga. Cuma berbeda
bahasa, setingkat lebih canggih. Karena kami bisa berfikir dan kami juga bisa
mencipta. Manusia. itulah jenis kami, bagian kecil dari rimba ini, berpotensi
untuk tersesat. Juga berpotensi untuk merusak bahkan menguasai rimba belantara
raya ini. Itulah rimba kami. Yang disana kami dilepas untuk mencari jalan
kembali.
Keraguan membuatku kembali bersua dengan yang lain, dengan mereka
yang sama-sama mencari jalan dibelantara rimba ini, mencari jalan untuk menuju
muasal dari jagat, muasal dari raga, mencari tempat kembali sang jiwa. Jalan
yang kami tempuh begitu kabut, bising, berduri, dan kami hanya bisa meraba.
Ingin kuceritakan tentang kisahku dan tentang sebuah istana mega, yang dengan
yakin aku bersaksi bahwa itulah muara kami. Itulah cita kami, itulaha tujuan
kami, akhir dari segala kabut jalan yang ditempuh, muasal raga teripta, mula jiwa
berada.
Siapakah aku yang tiba-tiba bercerita tentang istana dan segala
penghuninya, tak mungkin mereka percaya, sedang jalan pun belum setengah aku
pernah tempuh. Hanya kata gila dan khayalanku saja yang pasti mereka kira,
karenaku tak pernah punya daya untuk bisa menuju kesana. Mungkin itulah kata
dari mereka kalau aku bercerita. Tapi aku tak berdusta, bahwa istana itu memang
pernah tampak nyata didepan mata, bahwa para penghuninya pun aku kenal semua,
bahkan aku haqqul yakin bahwa aku pernah tinggal disana, entah kapan.
Walau ragu untuk bercerita, aku coba untuk mewarta juga, tentang
kisah sebuah istana dan tamannya, lengkap dengan para penghuninya. berharap ada
satu dua jua yang percaya tentang apa yang kepada mereka aku berkisah. Ada yang
coba mendengar, ada jua yang mencoba percaya, ada yang coba mengkonfirmasi, ada
juga yang hanya bertanya-tanya, tapi kebanyakan mereka hanya berkata, “mengapa
kau tak tinggal saja disana dan kenapa kau kembali ketengah kami dan bercerita
tentang sesuatu yang tak ada guna?”. Aku diam. Tak bisa menjawab.
Ah inikah belantara itu, yang sampai sekarang tak bisa kumengerti.
Bahasanya, adatnya, tanda-tandanya, aturannya. Asing. Seasing air di gurun
pasir, jiwa pada raga. Walau begitu aku juga hidup di sana, di rimba itu juga.
Bersama dengan para penduduk lainnya. Ya, banyak penduduk di sana, yang lupa
jalan kembali ke rumah sesungguhnya. Lena pada sejuk pepohonannya, terbuai oleh
angin yang berhembus sepoi. Tak apalah, mungkin sudah begitu ceritanya, ada
yang mencari ada juga yang cuma beridiri, ada berjalan ada juga yang diam
tertanam, ada yang bergandengan ada juga yang berlepas tangan, ada yang
bertahap ada juga yang berkelabat. Itulah faktanya, dunia rimba belanatara. Ada
yang bershabat, ada juga yang saling babat, ada ramah, ada juga yang tak mau
kalah, ada yang ego ada juga cinta sesame. Itulah rimba. Jagad belantara.
Itulah dunia.
Bantaran Kali Gajah Wong, 31 Juli 2012
Comments