Cerita Malam

Oleh: Pauzan. S

Tahukah kau, ketika jemariku terus saja menari di atas tuts keyboard komputer lawasku, sekan tak mau henti,  tak mau kompromi dengan pantatku yang terbenam pada lantai dingin kamarku. tahuka kau? ketika kakiku mengeras kesemutan pada duduk silaku yang kaku. tahukah kau?

Malam ini langit berwarna, bukan hitam, tidak juga putih. Angin malam seakan hilang dari bumi ini, tak berhembus walau sepoi ringan melenakan. Ya, udara seakan hampa walau ia dingin menggigilakan tubuh hangatku. Tentu kau tau kalau hangat tubuhku. Bukankah waktu itu kita pernah berbagi kehangatan. Aku akan selalu rindu suasana itu. Tapi malam hari ini begitu dingin.Tubuhku seperti kaku, kelu, walau jemari lincah saja menari.


Kau tentu pernah ingat kan pada kisahku tentang Wiranggaleng dan Idayu. sebuah cerita dari novelnya Pram. Cerita cinta serta kekuasaan epos Majapahit di pulau Jawa. aku berharap kau masih ingat walau kau tak terlalu suka sejarah. Eh.. bukankah waktu itu kita pernah bercita-cita ingin mendongengkan cerita-cerita kerajaan besar Nusantara pada anak kita kelak. Kemudian kalau anak kita sudah Tidur tentunya kita kan beraktifitas lagi. Bercita-cita juga. Kita menyebutnya "bercengkrama". hehehe. Masihkah kau ingat. Atau kau sudah diam tak punya angan tentang masa depan.

Aku juga dulu pernah cerita padamu, tentang film korea yang berjudul menatikan 31 juni, dan kau protes waktu itu, karena bulanJuni tak pernah punya angka 31. Kau masih ingat kan jawabanku? "Namanya juga berharap, berangan, bercita-cita," begitu jawabku waktu itu. Sambil mencubit mesra pipi putihmu. atau kau hanya ingat sama cubitanku.

Sekarang aku masih di sini. Entah menanti apa. Mengharapkanmu adalah keajaiban, menantimu mungkin hanya kesiaan. Tapi aku masih disini. Setia menunggu kehadiranmu. Semetara menunggumu, aku masih sibuk, berusaha antara harap dan cemas, menyelesaikan tugas-tugas yang tak kumengerti. 

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*