Pendaran Cahaya Yaya*
Jika lampu menarik nyalanya dari sumbu, setiap orang yang melihat kampu
pasti dapat melihat sumbu lampu
Jika cahaya pindah dari lampu satu ke lampu lain hingga seratus
jumlahnya, maka lampu terkahir yang yang terlihat menjadi beradanya cahaya yang
awal
Apakah kau mengambil dari cahaya terakhir atau sebelumya, tidaklah
berbeda, pun jika kau mengambil cahaya itu dari sumbu lilin.
Apakah melihat cahaya (Tuhan) dari lampu terkahir (Auliya) atau dari
lampu yang menyala sebelumnya (Nabi-nabi), cahaya yang kau lihat cahaya itu
juga.
(Fiihi Maa Fiihi; Maulana Rumi.)
Pertemuan seperti mula sebuah penciptaan. Pertemuan adalah sebuah pena
yang akan menuliskan kisah yang terjadi setalah petemuan itu terjadi. Dan pena
adalah salah satu dari empat ciptaan yang Allah ciptakan dengan TanganNya
sendiri. Pena jugalah yang membuat beberapa pertemuan; di sebuah masjid, di sebuah
kota, di sebuah komunitas, di sebuah majlis yang malaikat bentangkan sayap-sayapnya.
Di sana nama buka menjadi sebuah hal istimewa. Tegur sapa, canda tawa, serta
sekelumit kecerian dalam menjalani kehidupan masa muda adalah keindahan dan
keharmonisan yang melebihi basa basi bertukar nama.
Mengingat pertemuan berarti menemukan titik perpisahan. Kita berada dalam
dua kondisi itu. Setiap kita menjalani dua kisah tersbut. Kisah pertemuan dan
kisah perpisahan. Dan perpisahan adalah awal bagi pertemuan.
Awal dan akhir adalah sebuah keniscayaan bagi kita di dunia ini; dunia
yang fana, dunia dengan segala hiruk pikuknya, dengan segala perdebatannya,
dengan segala persaingannya. Mula dari semua itu adalah sejak kita dilahirkan,
atau bahkan sejak Adam diciptakan. Seperti halnya pena yang yang diciptakan
bersamaan dengan Adam yang siap menuliskan segala pertentangan, segala cerita,
dan semua perjalanan kehidupan hingga nanti sebuah batas terkahir, batas yang
yang telah ditetapkan, batas yang bahkan sejak dulu telah dituliskan oleh pena.
Sebagaimana keberadaan fana adalah nyata, maka ada yang abadi dalam diri
kita. Di sisi kehidupan kita, yang fana dan yang abadi barjalan bergandengan,
melangkah bersisian. Yang Nampak akan menghilang, yang terasa akan sirna, dan
yang dapat tersentuh akan rapuh, lalu luruh. Kemana semua menghilang? Lalau
yang abadi, di mana ia bersembembunyi?
Keabadian yang ada dalam diri kita tak sepenuhnya bersembunyi. Terkadang,
ia hanya berlalu tanpa kita sadari. Keabadaian dalam diri kita seringkali
menyaru dalam gelak tawa yang menjadi kenangan, kesedihan yang menjelma
renungan panjang di akhir malam, kesabaran dalam menahan perih luka kehidupan,
atau terkadang dalam tatapan kemesraan kala kita berkumpul bersama dalam suasana
kasih dan sayang. Keabadian pada hakikatnya nyata dalam setiap hembusan nafas
kita. Keabadian itu adalah seberkas cahaya yang ditiupkan oleh Sang Pencipta dalam
diri kita. Jauh sebelum kita hadir menjumpai keindahan dunia dengan segala
hiruk pikuk yang menyertainya.
Dan cahaya itu berpendar dari dalam dirimu.
Celakalah setiap kita yang tak pernah mampu menangkap seberkas cahaya
dari setiap ciptaanya. Bahkan dalam diri kita sendiri. Maka, saat pertemuan itu
terjadi, walau entah kapan tepatnya, aku berusaha sebisa mungkin untuk
menemukan pendaran cahaya dari dalam dirimu. Pendaran cahaya yang mamu membuat
kita belajar dan insaf, bahwa ada banyak hal yang istimewa dalam kesementaraan
kehidupan.
Aku masih ingat saat kita mengantri panjang untuk mendapatkan tanda
tangan seorang penyair yang telah kakek itu. Kau memnaggilnya eyang, mencium tangannya
dan menyodorkan ssecari puisi ke tangannya. Kakek penyair berbahagia.
Sebelumnya, kita bercerita banyak hal tentang buku dan dunia sastra. Sebuah
dunia yang engkau sukai. Sebuah dunia yang tak aku fahami.
Buku dan sastra. Hanya dua hal itu yang menjadi topic perbincangan kita.
Tak ada yang lain.
Di dunia maya sana, kita bergembira dengan kelakuan mereka yang mendaku
dirinya seorang penyair, atau seorang yang kritikus? Entahlah. Lalu tentang
buku,-satu hal yang kini jarang diminati- engkau adalah seorang pembaca yang
tekun begitu menurut beberapa teman kita. Dan pembaca yang tekun akan menghasilkan
goresan tulisan yang bernas dan berkualitas. Tulisan itu selalu engkau hadirkan
untuk kita semua.
Kisah telah tertulis, cerita telah disampiakan. Di balik senyum dan tawa
renyah itu, ada ketabahan yang engkau simpan. Barangkali kau hendak mengatakan
kepada dunia bahwa usia dunia tak sebanding dengan kisah cintamu bersama Sang
Kekasih. Mengarungi kembali ingatanku tentangmu aku teringat sebuah puisi Iqbal
sang penyair itu, ia berkata; hubunganku dengan alam telah tua usianya,
kuberikan diriku padanya hati dan jiwa, namun percintaan lamku dengannya,
dengan singkat kukisahkan; aku memahat, menghiasi dan memecahkannya.[1]
Kehidupan yang kau jalani adalah sebuah perjalanan dengan keberanian
serta ketabahan, dimana senyum dan air mata hanyalah sebuah wujud dari perintah
Sang kekasih. Di antara hari hari itu, kau seperti memberikan kami sebuah pelajaran
bahwa ada keindahan yang lebih layak untuk dirayakan. Betapa tidak, bahkan saat
menjalang batas itu, engkau masih menulis dengan gembira, memberikan
pengetahuan serta bekal buat kami, tentang apa itu arti dari sebuah perjuangan.
Seakan engkau bersenandung, bumi hanyalah debu di depan pintu kedai kita,
langit tak lebih dari cawan anggur yang berputar, kisah hati kami panjang,
teramat panjang, dunia tiada selain lagu pembukanya.[2]
Hingga batas pertemuanmu dengan Sang kekasih, kita tak lagi sempat
bertatap wajah. Keinginanku dan kami sebagai teman tak mampu menandingi
kerinduan dan kehendak Maha Pengasih. Barangkali dalam dirimu, kerinduan itu
menyala dalam raga, berpendar dalam pribadimu, sebuah kerinduan yang abadi. Lebih
hidup dan menyala dan lebih kemilau. Sebuah kerinduan yang menjelma pancaran
wujudnya[3],
dan kami hilang di bawah sinar kemilau kerinduan itu.
Engkau kini terbang dalam kerinduan itu. Berkumpul bersama para pencinta.
Hidup dalam kebadaian yang tak terperikan. Memakai jubah sutra yang engkau
rajut dalam kehidupan yang gembira. Batas telah tiba. Sebuah awal telah
mencapai akhir. Dan kisahmu tak pernah berakhir. Kisahmu menjadi abadi bersama
senyum yang kau beri untuk semesta. Pendaran cahaya itu berkumpul kembali bersama
Muasal Cahaya. Dan Cahaya akan tetap dan selalu menjadi pelita.
*tulisan ini sebagai kenangan atas kerpgian teman kami Ria Fitriani. semoga damai di sana di tempat yang terbaik.
[1]
Tulip dari Sinai, dalam buku Pesan Dari timur Karya M. Iqbal terj. Abd, Hadi
WM.
[2]
Ibid.
[3]Pribadi
yang kuat oleh kerinduan dalam Asror
Khudi, M. Iqbal.
Comments