Membawa Al-Qur’an dalam Laku Kehidupan


Al-Qur’an merupakan satu bagian penitng dari kehidupan umat islam secara khusus dan umat manusia secara umum.

Saat pertama kali Al-Qur’an diturukan, ia membawa ajaran serta pencerahan bagi seluruh umat manusia. Kala itu Arab sedang diliputi sebuah zaman yang bernama kegelapan. Kejahiliyahan.  Masa dimana yang berkuasa adalah kaum lelaki dan mereka yang mulia karena garis keturunan. Lalu kemudian Al-Qur’an datang membawa ajaran persamaan, keadilan, hormat menghormati, dan beragam tatacara serta laku dalam menjalani kehidupan. Meski saat itu, Arab, sangat terkenal dengan para penyair dan pujangga yang piawai dengan satra lisannya. Ketika Al-Qur’an datang kehadapan mereka, mereka takjub, bahkan tak sedikit yang berserah diri untuk memeluk Islam karena mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an.




Kurang lebih empat belas abad yang silam, suatu malam di bulan Ramadhan, saat Muhammad SAW menjalani Uzlah di sebuah gua bernama Hira, datanglah Jibril membawa kalam tuhan, ia datang lalu memeluk Muhammad dan berkata; “Iqra’ ya Muhammad”, nabi Menjawab, “Maa ana bi Qori’”, itu berulang sebanyak tiga kali, lalu dibacakanlah ayat Al-Alaq 1-5, dan itu merupakan surat serta ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus sebagai tanda diangkatnya Al-Amin sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Sebagai mukjizat, Al-Qur’an mempunyai nilai sastra yang tinggi, yang bagi orang Arab di masa itu adalah satu keajaiban dalam kata-kata dan bahasa. Dan ia diturunkan kepada seorang Rasul yang Ummi yang tak mengerti baca dan tulis. Ia meyakinkan pada kaum Arab bahwa Al-Qur’an bukanlah ciptaan atau rekaan manusia. Namun, ia adalah kalam serta wahyu yang datang langsung dari Tuhan. Al-Qur’an tak hanya tentang keindahan bahasa berikut kata-kata, ia adalah petunjuk bagi kehidupan umat manusia.

Membaca Al-qur’an merupakan sebuah kebaikan, karena Al-Qur’an adalah Kalam Tuhan, maka saat kita mebacanya, sejatinya kita sedang bercakap-cakap dan membaca dengan kata-kata-Nya. Dengan banyak membacanya maka kita terus mengingatnya, dengan mengingatnya jugalah hati kita akan tenteram. Maka, tak heran kemudian, kata-kata  dalam Al-qur’an disebut sebagai al-Mu’jiz bitilawatihi. Sesuatu yang bernilai lebih ketika membacanya.

Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Ayat pertama yang turun, memberikan makna bahwa dalam setiap kegiatan serta laku kehidupan hendak dan haruslah dengan nama Tuhan. Tuhan yang menciptakan manusia. Tuhan yang mengajari manusia dari segala ketidaktahuan. Seperti yang ditegaskan kemudian dalam ayat yang lain;
Itulah Kitab (Al-quran) yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (AL-Baqoroh : 2).

Secara berangsur Al-Qur’an kemudian hadir di tengah-tengah para sahabat dan hingga kita hari ini sebanyak 30 juz dan terbagi dalam 114 surat. Sebagian besar ayat dalam Al-Quran merupakan cerita-cerita atau kisah tentang umat terdahulu, dan tentang para nabi terdahulu. Kisah-kisah  yang  memberikan pelajaran serta ajaran yang akan menjadi bekal kehidupan di dunia.

Kisah serta ajaran yang tertuang dalam Al-Qur’an merupakan himpunan yang lengkap dari kitab-kitab terdahulu yang pernah diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Sebagai kitab pamungkas, ia tak hanya diturunkan untuk orang arab semata, atau untuk kamu tertentu semata, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi sekalian umat manusia yang ada di muka bumi.

Sebagai sebuah petunjuk bagi laku kehidupan, Al-Qur’an tak hanya berbicara tentang surga-neraka, azab-pahala, haram-halal, namun, jauh di balik kandungan ayat-ayatnya yang mempesona, Al-Qur’an bicara tentang pengetahuan, tentang ekonomi, tentang sosial kemasyarakatan, politik, dan segenap lekuk serta liku kehidupan yang kita jalani hari ini. Dan untuk mengetahui hal ini, tidak terlepas bagaimana kita memahami serta mendalami, lalu mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Para sahabat, saat mempelajari Al-Qur’an mereka tidak akan beranjak ke ayat berikutnya sebelum mereka menjalankan ajaran yang ada di dalamnya. Hal ini merupakan satu pesan penting bagi kita, bahwa, Al-Qur’an bukan hanya sekedar cara membaca serta langgam semata, ia juga tak semata untuk dihapalkan di luar kepala, lebih dari itu, Al-Qur’an hendaklah menjadi bagian dari setiap gerik serta laku kehidupan kita. Siti Aisyah, Istri Rasulullah pernah ditanya tentang bagaimana akhlak dan perangai Rasulullah, ia menjawab, “Kaana Khuluquhul Qu’ran”. Akhlak Nabi itu, adalah Al-Qur’an itu sendiri.

Peringatan tentang turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan merupan salah satu keistimewaan, dengan keistimewaan itu, Ramadhan menjadi momentum untuk mengingatkan kita kembali akan sebuah warisan agung Rasulullah, sebuah kitab, sebuah pedoman yang akan menyelamatkan kita dari kesesatan dalam mengarungi rimba dunia. Seperti yang pernah beliau sabdakan ketika Haji Wada’ atau haji perpisahan:
Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang apabila kamu berpegang kedapanya, maka kalian tidak akan tersesat untuk selamanya. Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi.

Hadist di atas merupakan satu isyarat penting dari Rasulullah SAW, agar kita jangan sekali-kali berpaling dari Al-Qur’an, agar kita terus menerus mempelajari serta mengamalkan kandungan dari al-qur’an, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Barangkali, jika kita hendak berhitung dengan jujur, keadaan kita (umat islam) makin terperosok dan mudur disebabkan oleh jauhnya kita dari al-qur’an. Atau, Al-Qur’an hanya dijadikan sebuah hiasan, hiasan pada bibir dan telinga, atau hanya sekadar jadi teori-teori, dan tidak menjadi akhlak yang kita bawa dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga dengan momentum Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkannya Al-Qur’an, kita -sebagai orang yang mengaku pengikut Nabi Muhammad, Kita yang selalu menghiasi bibir kita dengan shalawat kepadanya-, kembali berpegang teguh untuk membawa dan mengamalkan al-Qur’an dalam setiap laku kehidupan, dan berharap kelak, di akhirat, Al-Qur’an datang kepada kita meberikan syafaatnya. Wallahua’lam.





Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*