Keputusan #2
Setiap
kali aku kembali dari dunia tidurku, mereka datang satu persatu menyapaku. Ada
yang datang untuk mengingatkan bahwa kehidupan tak boleh disia-siakan hanya
untuk hal-hal yang sedikit pun tak menguntungkan. Ada yang datang menyapaku
dengan tawa panjangnya sambil berkata, mengapa tidak kau enyahkan saja dunia
dari dirimu.
Ada juga yang datang dengan wajah sumringah seraya berkata,
“arungilah dunia ini, karena tak ada lagi dunia seindah ini. Langkahkan kakimu
kemana engkau suka”. Aku terkadang geli mendengarnya, tapi tak urung aku
mengakui bahwa apa yang mereka katakan kadang aku butuhkan.Dan yang paling
membuatku muak adalah sebentuk wajah yang datang dengan senyum tipis nan sinis
seraya berkata, “berjuanglah, hiduplah untuk kebahagian orang lain, lupakan
waktu untuk memikirkanmu sendiri.”
Jika
wajah-wajah itu datang menyapaku, selalu saja aku ingin menampik dan
menghindar. Ternyata mereka lebih tangguh dari apa yang aku kira. Perlahan aku
juga menyadari, akulah yang menciptakan mereka, menghidupkan mereka, dan kini
datang untuk menemaniku. Aku menciptakan mereka dari bermacam bahan baku.
Pengetahuan, pengalaman, perbincangan dan sederet percakapan-percakapan dalam
diam. Dalam kesendirian dan kesunyian. Untuk menghindari mereka, apalagi
membunuhnya bukanllah perkara gampang. Pembunuh bayaran yang terlatih dari
kecilpun tak kan mudah untuk membunuhnya. Hal ini juga pernah terjadi dahulu
kala, empatbelas silam di tanah yang berpasir yang tumbuh di atasnya
kebun-kebun kurma, seorang manusia mulia pernah berkata kepada para panglima
dan prajuritnya. Mereka baru saja menunaikan sebuah perang maha dahsyat dan
memenangkannya. Dan peperangan yang maha dahsyat itu masih lebih kecildibanding
perang untuk yang akan mereka hadapi kelak: perang melawan segala
keinginan-keinginan.
Mengabaikan
wajah-wajah itu bukanlah hal yang mudah. Kehadiran mereka merupakan sebuah
tawaran akan kenikmatan, yang barangkali dicari oleh setiap manusia di atas
bumi ini. Pesona keindahan ciptaan alam yang tiap jengkalnya menawarkan sesuatu
yang baru. Pesona kecantikan yang mampu mengobati kehausan ragawi. Pesona
sudut-sudut remang setiap kota yng menawarkan keasyikan dan misteri. Lalu yang
paling mempesona adalah kenikmatan kesendirian yang selalu menawarkan
kebebasan.
Aku
masih berharap pada waktu yang tersisa. Barangkali waktulah yang membuat
wajah-wajah itu hangus terbakar hingga ia menjadi debu lalu dibawa oleh angin
atau dihapus hujan. Atau aku masih berharap pada keheningan malam, saat
tentara-tentara Tuhan turun ke muka bumi mendengarkan keluh kesah manusia dan
menyampaikannya pada Tuhan. Apapun itu, siapapun itu, ada secercah harapan yang
akan membuat kesendirianku dan hal-hal yang melekat dalam dirinya, terkelupas
satu persatu, hingga menjadi serpihan-serpihan kepasrahan. Kepasrahan yang
mebuatku menjadi seperti nabi Ibrahim yang keluar dari panggangan api. Atau
seperti nabi Yunus yang keluar dari perut ikan. Dan itu semua akan datang, akan
tercapai bila satu kata ini sudah dilakukan. Sebuah kata itu bernama keputusan.
Comments