Senja Cinta Awan*
Oleh: Guntur Akbar
Awan duduk tercenung dengan mata menatap mega di awal senja.
Mega berarak di langit berwarna merah. Semburat khas senja cerah. Tanda bahwa
mentari hendak menyerahkan singgasananya pada rembulan raja malam. Awan duduk
di teras depan kamarnya. Kamar kost berjejer dengan masing-masing terasnya.
Sebuah sekat dari tumpukan bata yang disemen rapi menjadi jarak pemisah bagi
setiap penghuninya. Kamar kost Awan menghadap ke barat. Sore hari adalah waktu
mentari bersinar cerah memasuki setiap celah kamarnya. Di terasnya Awan duduk di
atas kursi sederhana. Kursi kayu. Di sanalah ia tercenung, dengan tatapan kosong
menatap mega senja. Semburat cerah menyala. Tapi tidak dengan hati Awan. Ia
masih tercenung. Termenung. Melamun.
Pikiran Awan terus melayang, melanglang, melintasi mega, berkendara angin, berlabuh pada raut sebuah wajah. Wajah yang membuat senja cerah menjadi muram. Wajah yang telah menawan segenap dirinya. Jiwa dan raga. Dari kaki hingga kepala. Hatinya telah tertawan. Hatinya resah, gerak geriknya gelisah. Sesekali hembusan asap rokoknya diiringi dengan satu atau dua desah. Bukan keluh kesah. Mendesah. Tidak berima tapi berirama.
Wajah siapa gerangan. Membuat seorang Awan begitu tertawan. Begitu terkesan. Membuat mukanya seperti tertimbun beban. Beban tak tertanggungkan. Kiranya Awan telah menjadi seorang sentimentil penuh perasaan. Seperti alur cerita-cerita cinta dalam roman-roman picisan zaman kemerdekaan. Perasaan yang akan menghatarkannya pada rindu dendam. Kasih dan sayang. Cerita pasangan dengan khayalan kemesraan. Walau kadang berakhir dengan derita perpisahan. Kiranya Awan telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada seraut wajah yang mempesona. Wajah siapakah gerangan. Wajah rupawan.
Semua bermula dari tatapan sekilas. Kala mentari naik bertengger di atas kepala menyengat panas. Di sebuah kampus dengan riuh rendah mahsiswa keluar dari ruangan kelas. Awan melihat wajah itu dari balik kaca bening, sebening gelas. Sosok perempuan dengan wajah rembulan, sedang membenahi buku-bukunya ke dalam sebuah tas. Kemudian pergi bergegas. Wajah Awan seketika melas, karena tatapannya lepas. Ia juga bergegas mengejar dengan lekas. Tapi kepada yang dikejar tak jua kunjung papas. Kandas. Akhirnya ia berhenti dan kembali sembari mengatur nafas. Peluhnya mengalir deras. Kebas.
***
“Mm...ma... ma...suk kelas apa mbak”, Awan menyapa terbata.
Rencana awal sebuah perkenalan. Berharap tujuan tersampaikan. Di suatu pagi
depan kelas.
“304, Kritik Terjemah”, yang ditanya menjawab seadanya, tanpa menoleh
muka.
“Sastra Inggris?”
“Bukan. Sastra Arab”
“Ooo....”, Awan kemudian duduk. Sedikit kikuk. Dengan kaki
yang tertekuk. Jeda. Interval. Diam. Dalam bilangan menit.
“Emang mau masuk kelas apa?”, perempuan itu bertanya, masih
dengan wajah menunduk, dan mata yang terpaku pada baris-baris paragraf sebuah
buku.
“Metopen Sastra”, jawab Awan menyebutkan mata kuliahnya.
Sedang Awan sudah duduk di sebelahnya. Satu meter jaraknya.
Hatinya lega. Percakapan telah dibuka. Ia mulai berpikir menata kata. Menyusun
tanya.
“Aku Awan, Sastra
Inggris ‘09” Awan dengan ringan mengenalkan diri. Sedang yang di tanya agak
sedikit jengah.
“Sastra Arab ‘09”, ia menjawab kemudian menoleh. Tanpa
menyebutkan nama. Kemudian berlalu. Hilang di balik rindang tanaman-tanaman
taman. Awan terkesima. Tepatnya tak percaya ditinggal begitu saja. Tanpa
meninggalkan sederet kata. Tanpa sebuah nama. Itu pertemuan kedua. Di depan
sebuah kelas Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya. Si sebuah kampus milik
pemerintah. Di pinggiran sebuah kota. Kota istimewa.
“Lumayan, ada kemajuan” dalam hati Awan menggumam.
***
Hari terus berganti. Ia tak pernah peduli pada suasana hati.
Tak tergantung pada harapan anak manusia yang dipenuhi sejuta mimpi. Awan
kehilangan nyali, semenjak peristiwa ditinggal pergi. Tapi dalam diam Awan
terus berjuang. Berusaha dengan gigih, mencari nama serta sederet identitas
diri. Teman-temanya ia introgasi. Di kantor tata usaha ia melakukan
investigasi. Awan berusaha setengah mati, demi seorang yang telah membuat ia
jatuh hati.
Usaha Awan tak sia-sia. Walau malu ia terima. Seberkas info ia terima, tertera nama serta nomer kontaknya. Ia tersenyum mengeja nama. “Nama yang indah”, hatinya berkata. Mengingatkannya pada sebuah cerita lama. Tentang seorang ratu yang kaya lagi mulia. Hidup mewah dengan istana besar serta megah. Ratu yang takluk kepada seorang raja. Raja yang dalam sekejap dapat memindahkan istananya. Raja kaya lagi perkasa, dengan istana megah tak terkira. Karena istana sang raja jugalah, ratu menanggung malu tak terkira. Hanya karena salah sangka, ia menyibak jubah anggunnya. Hingga tampak betisnya yang indah. Sang ratu akhirnya takluk saat itu juga. Kemudian menjadi permaisuri raja.
***
Putri Saba, Awan memanggilnya. Perempuan dengan elok paras
wajah. Kiranya ialah yang menyebabkan Awan gelisah. Sebuah wajah dan seutas
nama, terpatri kuat dalam hatinya. Membayang kala malam merenda kelam. Hadir
setiap pagi kala mentari merajut harmoni. Semangat pagi dalam secangkir kopi.
Harap berjumpa di kampus nanti.
Dua pertemuan telah ia lewati. Bermacam usaha ia lalui. Pesan pendek ia kirim berkali-kali. Tak jua berbalas sesuai kehendak diri. Berkali panggilan ia lakukan, semua berlalu tanpa kesan. Segala harapan tinggalah mimpi. Semua itu Awan jalani, hanya untuk memikat Putri Saba pujaan hati.
Kini Awan tak punya nyali. Semenjak ia ditinggal pergi. Semua sudah berlalu. Mungkin ribuan hari sudah berganti. Semua rasa ia simpan dalam hati. Wajah sang putri hanya bisa ia pandangi. Dari kejauhan. Karena untuk bertemu Awan tak berani. Perasaan cintanya seperti tak terganti. Hingga berbilang tahun ia jalani. Kini waktu tak ingin menunggu akhir dari cerita cintanya. Semua berlalu begitu saja. Berkelabat bak bayang cahaya sekejap di malam senyap. Sejenak lewat membelah malam. Kemudian menghilang ditelan kegelapan. Yang memandang hanya bisa terdiam. Melongok terpana. Terpesona. Begitulah Awan kini. Hanya pada mega senja ia bercerita. Pada desah ia berkesah. Awan tak ingin menyesal, dengan perpisahan tanpa kejelasan. Perpisahan dengan rasa terpendam, tak kunjung terungkapkan.
***
Sang putri bagai bidadari yang melela indah di awan senja.
Turun kebumi untuk bersenda-senda, kemudian kembali terbang melela menembus
mega. Mungkin ke surga. Putri Saba seperti tak tersentuh, seakan berikrar bahwa
dialah sosok perempuan utuh. Sempurna. Entah amal apa yang ia lakukan, hingga
tampak begitu memikat. Cukup dengan satu senyuman. Bahkan, sekedar melangkahpun
ia telah menebar pesona. Pesona Putri Saba.
Kecantikan fisik memang menawan. Tapi, apalah artinya tanpa disertai kesantunan dan kecerdasan. Dan kiranya kesantunan serta kecerdasan Putri Saba telah membuat ia begitu mempesona. Bila bertutur, kata-katanya runtut dengan logika. Sederhana. Teratur. Mudah dicerna. Lembut. Penuh kehati-hatian serta pertimbangan. Bila bergaul ia membuat teman-temanya gembira. Senang. Sungguh menyenangkan.
Bacaannya bertumpuk-tumpuk, semua ia serap kemudian ia endapkan dalam kepala. Semua yang didapat ia lahap. Semua yang terbaca menjadi berguna. Dari soal filsafat dengan tema yang berat, sastra yang mengasah rasa, hingga novel remaja yang mengharu biru. Semua ia tekuni, semua ia nikmati. Hingga teman-temannya seringkali berkata, “ adakah cela dalam dirimu wahai Putri Saba?”.
“Sesempurna itukah dirimu wahai putri Saba?” Awan bertanya
pada dirinya sendiri.
Kenyataan itu semakin membuat Awan ciut. Degup jantungya memompa lebih cepat dari biasanya, jika Putri Saba melintas dalam angan di kepalanya. Ia menjadi tak berdaya. Pertemuan ketiga tak kunjung ia dapatkan. Pertemuan yang begitu ia harapkan. Nasihat teman-temannya tak berguna baginya. Seperti disihir, Awan akan tertegun diam kalau sudah berhadapan dengan Putri Saba. Sempat ia berprasangka bahwa sang putri bukanlah orang biasa. Melainkan manusia lama yang terjebak pada raga masa kini. Ia menduga penuh sangka wahwa sang putri adalah manusia pilihan.
Kenyataan harus dihadapi oleh Awan, bahwa ia tak berani lagi bertegur sapa. Tapi ia tak akan menyangkal, tentang kenyataan dirinya yang terlanjur mencinta. Sejak pandangan pertama. Sejak semeseter dua. Hingga kini menjelang diwisuda. Bertahun-tahun lamanya, rasa cinta yang ia pendam. Tak pernah usang, tak sedikitpun lekang, bahkan dengan kehadiran Amelia. Teman dekat Awan. Kekasih sementara katanya si suatu malam. Sebuah pelarian. Meretas kemungkinan kala harapan tak kunjung datang.
Usaha Awan hampir mencapai titik kepasrahan, namun ia masih menyimpan secercah kemungkinan. Keajaiban lebih tepatnya. Ia mulai merapal do’a-do’a, menghadirkan jiwa Putri Saba. Usaha yang belakangan kerap ia lakukan. “Anjuran seorang teman”, begitu kilahnya dalam keputus asaan. Kadang menjelang malam ia lakukan, tetapi lebih sering ketika matahari telah terbenam. Semua dengan satu harapan, agar hati sang putri dapat ia taklukkan. Namun usaha tinggallah usaha. Harapan hanya menyisakan misteri masa depan. Jodoh yang dinantikan.
***
Kemarau sudah di penghujung musimnya. Hari-hari seringkali
dihiasi oleh rinai serta rintik hujan. Sesekali pelangi menghias awan. Senja
cerah dengan mega berarak merah kini telah berganti. Tak lagi menemani senja Awan
di teras kamarnya. Gemericik suara air hujan terkadang menemani senja Awan.
Menambah syahdu suasana hati yang kelam. Masih dengan cinta yang terpendam.
Rasa yang hingga kini tak terungkapkan. Tapi Awan belum menyerah, ia masih
berusaha. “Nanti bila waktunya tiba, jawaban akan datang, dan kita akan segera
bersama”, ucapnya menghibur diri.
Akhir obrolan kami di awal musim hujan ini membuat aku berfikir tentang kisah lama. Drama anak manusia yang terkisah dalam roman kisah cinta. Aku teringat romansa cerita Dian yang tak Kunjung Padam, cerita cinta Molek yang bangsawan mencinta bujang jauh di pedalaman. Berakhir kepiluan. Pun dengan kisah Di Bawah Lindungan Ka’bah. Ada juga roman Nizami dari luar negeri, yang menceritakan Qais dan Laila, Shakespears dengan kisah Romeo dan Juliet. Semua itu adalah kisah drama percintaan pada negeri dan zaman masing-masing, berakhir penderitaan. Kisah itu berulang sekarang. Zaman di mana hidup penuh dengan kebebasan. Zaman di mana perasaan acapkali dikesampingkan. Bahkan diabaikan. Aku berdo’a seraya berharap, agar cinta Awan tak berujung kesengsaraan.
Aku menghabiskan sisa kopi di cangkir kami. Kemudian beranjak pindah memasuki kamar ku. Awan aku tinggalkan sendirian. Sedang hujan tak menyisakan sinar matahari senja itu. Senja yang menyimpan kisah kesah cinta Awan.
Dukuh kemiri, Wonosobo, 10-11
Oktober 2012.
*Sebuah Kisah dari seorang teman. Tetangga kamar sebelah.
Comments