Tentang Malam

Oleh: PaoezanS


Kau yang bersajak merdu
Tentang indahnya malam dan rembulan
Mencari makna dibalik sajak indahmu
tentangmumu, malam dan rembulan

Kau cumbui ia, kau dekap, kau setubuhi
Hingga puas.
Terkapar. Dengan mata terpejam. Letih!


Padamu, malam begitu mesra
Hingga nafsumu menggelora
Menyibak malam mencari rahasia
Hingga sang mentari datang dan berkata
Sang malam telah tiada!


Air yang dijerang diatas kompor itupun mulai menggelagak mendidih, hingga aku harus segera meracik kopi dalam secangkir gelas mini yang telah aku siapkan. Air dituang. Diaduk. Didiamkan berapa menit hingga masak dan larut. Kemudian ditambah gula sekedarnya. Segelas kopi telah tersedia.


Entah untuk apa kopi itu dibuat. Mungkin ia akan menjadi teman untuk kembali seperti malam-malam lalu. Bercumbu dan bermesra dengan Sang Malam. Kasih yang selalu setia menerima keluh kesah, selalu sedia menutupi segala aib kekurangan. Menjadi saksi pada setiap ritual indah, membuatku bertransformasi. Atau, secangkir kopi itu akan menghilangkan migrant dikepala. Migrant akibat komplikasi fikiran yang tak menentu. Kuliah. Jodoh. Rizki. Atau fikir tentang maut.


Ya, ialah Sang Malam, tempat segala rahasia bermukim, saat segala rahasia tersibak. Mereka yang bisa menalukkan Sang Malam, merekalah yang beruntung. Ia dengan indah bermesra, serta larut dalam gelapnya yang gulita, kelam mencekam, tapi juga terkadang syahdu, menggebu. Ah, hanya pada Sang Malamlah si cantik rembulam mau bersimpuh, menunjukkan cahaya lembut berpedar pada hitam bayang awan. Ah, hanya pada malam jualah para gemintang pasrah mewujud dengan titik putih berikalau yang menjadi petunjuk bagi sang pengelana, memberi tanda bagi sang ahli ibadah, dan memberikan inspirasi bagi para pujangga.


Dialah Sang Malam, sahabat sejati yang sering terlupakan. Ditinggalkan. Ditinggalkan hingga terlewatkan hanya karena mata terpejam. Begitu rugi  dan nestapanya mereka tak mengenal Sang Malam. Sahabat sejati itu. Betapa ruginya mereka tak pernah bisa menaklukkan malam. Bukankah ia tempat bermukim segala rahasia? Bukankah ia saat tersibaknya tabir-tabir rahasia. Dan bahkan, hanya pada malamlah para malaikat yang disucikan turun menemui para zahid untuk bercengkrama serta mewarta tentang kabar gembira.


Sang malampun begitu tampak lebih indah ketika kau telah menenggak segelas cairan hitam kelam. Ya, cairan itu yang biasa kami namakan kopi. Ia yang yang selalu memberi stamina kepada raga untuk tetap setia pada Sang Malam serta tidak takluk pada mata yang terpejam. Cairan itu yang membangkitkan serta merangsang syaraf-syraf letih. Keletihan yang menundukkan pada nafsu yang tak terkendali. Terpejam. Zat-zat kafein itu jualah yang menjadi prasyarat bagi yang ingin bercumbu serta bermesra dengan Sang Malam.


Dialah Sang Malam. Kelam. Pekat. Gulita. Kepadanya kutitipkan harapan, rindu dan dendam. Hingga sang mentari menyadarkan kami bahwa sang malam telah lama pergi. Dan kami, diam. Terkapar. Letih. Terpejam. 



Karangkajen, 2012.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*