Mengapa (Aku) Harus Menulis
“Bacalah, dengan membaca engkau akan menjelajah dunia walau jasad
terpenjara. Menulislah, dengan menulis engkau akan hidup abadi walau jasad berkalang
tanah, terbenam dalam bumi.” Itulah pamplet kecil yang aku pasang di dinding
markaz kami. Waktu itu tahun 2008. Ketika kami masih menjadi mahasiswa Sebuah
markaz kecil tempat belajar berorganisasi. Itu bukanlah pamplet masa darurat
seperti sajaknya Rendra, itu adalah pamplet motivasi buat teman-teman untuk
terus membaca dan menulis.
Pamplet itu ditulis kemudian ditempel berangkat dari kegelisahan
pribadi. Karena susahnya mencari tulisan untuk menerbitkan buletin yang hanya
terbit sebulan sekali, itu pun hanya
delapan halaman. Pamplet itu cukup membantu, aroma membaca, berdiskusi dan
spirit untuk menulis memenuhi atmosfir markaz.
Pertengahan tahun 2010, di sebuah kontrakan sederhana di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, tempat tinggalku kala itu.
Aku menemukan sebuah buku kecil. Buku lama. Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta.
Itulah judul yang tertera pada sampulnya. Buku karya seorang penulis muda.
Muhidin M. Dahlan Namanya. Tak terlalu banyak yang aku ingat dari buku itu,
kecuali sedikit tentang perjalanan seorang anak rantau yang bertahan hidup dari
menulis. Sebuah drama tentang kisah cinta pada buku dan membaca. Berekesan.
Itulah nilaiku pada buku itu. Walau, tak
banyak aku ingat isinya.
Sebuah forum pelatihan di Yogyakarta. Kegiatan rutin kita. awal
bulan Januari di tahun 2011. Aku mendapat tugas untuk menjadi pemandu acara
tersebut. Tema pagi itu adalah Filsafat Politk, pembicaraan tentang Filsafat
Politik rupanya cukup berat bagi peserta. Hingga pada akhir materi pembicara
berkata, “ jadi mahasiswa harus terbiasa menulis, entah apapun itu bentuk
tulisannya. Jangan takut tulisan kita tidak dibaca oleh orang, atau tulisan
kita berakhir di tempat sampah. Dari pada menjadi sampah di otak lebih baik
tulisan berakhir di kotak sampah.”.
Peserta tampak membenarkan apa yang disampaikan oleh pemateri lewat
diam serta khusuknya mereka mendengarkan. Lalu, sebenarnya bagaimana menulis
dan apa yang akan ditulis. Aku teringat pada sebuah film berjudul Finding
Forrester. Sebuah cerita tentang penulis yang melegenda dan seorang anak
kulit hitam yang baru belajar menulis. Forrester sang legenda berkata kepada
anak tersebut (aku lupa namanya) -setelah ia gagal berkali-kali memulai untuk
menulis-, “Menulis itu adalah menulis, bukan ‘berpikir’, jadi jangan menulis
sekalian berpikir.” Dengan sedikit suara meninggi ia memarahi anak tersebut.
Kalau menulis bukanlah berpikir lalu apa yang kita tuliskan.
Seorang Profesor pernah berkata, “ Menulis itu adalah menzahirkan
(mewujudkan ) yang bathin (ide/gagasan)”. Nah, ketika kita mulai menulis
maka sejatinya kita telah mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di benak kita
dalam wujud sebuah tulisan. Artinya, kita tidak akan bisa menulis banyak jika
dibenak kita tidak ada ide/gagasan/atau apapun yang pernah otak kita persefsi
dari kehidupan. Dan mustahil kalau kalau semenjak lahir hingga kini, otak kita
kosong tak berisi apapun juga. Proses mencari ide/gagasan/mengisi otak kita
dengan bermacam hal itu, kita dapatkan
secara sistematis dengan membaca.
Tak akan bisa banyak yang bisa kita tulis tanpa banyak membaca. Ya,
membaca. Lalu apa itu membaca? Masih mengutip perkataan seorang Professor tadi,
membaca itu adalah “membathinkan yang zahir”. Jadi, membaca tidak
terbatas pada membaca buku, majalah, Koran atau teks-teks tertulis saja, lebih
dari itu proses membaca adalah merenungkan serta mengendapkan apa yang kita
lihat di kehidupan ini. Membaca teks-teks yang telah Tuhan ciptakan di sekitar kita. Lewat
perenungan itulah kemudian kita endapkan ke dalam benak,
otak, serta hati kita. Itu artinya, disadari atau tidak, kita semua pernah
membaca.
Masih dalam pelatihan yang aku ceritakan sebelumnya, pada sebuah
materi sejarah Politik umat Islam Indonesia, kembali kami dimotivasi untuk
menulis, lebih tepatnya dikritik oleh pemateri. “ apa organisasi kalian ini… Tidak
punya sejarah, dan tidak ada yang mau serta berani menulis tentang sejarah
organisasinya, ayo dong tulislah sejarah kalian sendiri.” Tantangnya waktu itu
dengan muka sinis. Kami dipukul telak. Dan pemateri itu adalah senior kita
sendiri, Muhidin M. Dahlan namanya. Pengarang buku yang aku ceritakan tadi.
Menyambut Bulan Suci Ramadhan kemaren, sebuah EO (Even
Organizer) menyelanggarakan sebuah pameran Muslim Fair di Mandala Bhakti
Wanita Tama, Yogyakarta. Bersama seorang teman, kami iseng mengunjungi pameran
tersebut, siapa tahu ada buku-buku murah. Di sebuah sudut
ruangan, ada sebuah stand buku yang
tidak terlalu besar, buku-buku murah, dari harga 5000 sampai 15000. Aku
menemukan sebuah buku yang menarik dengan judul, Jalan Sunyi Seorang Penulis.
Pengarangnya Muhidin M. Dahlan (lagi), aku beli dengan harga 5000 rupiah. Setelah
kubaca, ternyata buku tersebut edisi revisi dari buku sebelumnya yang berjudul,
Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta.
Dengan motivasi-motivasi yang didengar, serta kenapa menulis itu
penting bagi kita, maka aku pun belajar menulis, belajar menulis dalam artian
yang sederhana, menuliskan apa yang ada di dalam pikiranku.
Hingga kini masih terus belajar. Tulisanku masih jauh dari bagus, apalagi bisa
diterima pada media-midia cetak kita. Tapi itu bukanlah kendala. Proses ini
akan terus berlangsung, sebuah proses belajar, agar bisa menulis, dengan baik
dan benar tentunya.
Pada halaman awal sebelum memulai kata pengantar dari penerbit, pada buku
Jalan Sunyi Seorang Penulis, aku mendapati sebuah kata yang secara substansial
mempunyai arti yang sama dengan pamplet yang aku tulis di markaz kami empat tahun silam. Sebuah kalimat
pendek dengan bahasa latin. Kalimat tersebut berbunyi, Scripta Manent, Verba
Volant. Yang tertulis akan mengabadi, dan yang terucap akan menghilang.
Bantaran kali gajahwong, syawal 1433.
Comments