Sebuah Catatan Tentang Ziarah Tanah Jawa


Jika berabad silam Sunan Kalijaga menghadirkan bedug ke masjid sebagai mikropon dakwah mengajak kaumnya ke masjid, maka kini para office boy masjid Jendral Sudirman menghadirkan Tahlil Kitab Puisi Ziarah Tanah Jawa sebagi langkah mengajak jamaahnya memakmurkan masid. Keduanya, baik Sunan Kalijaga maupun office boy Masjid Jendral Sudirman mempunyai kesamaan dalam berdakwah dan usaha memakmurkan masjid; yakni dengan pendekatan masyarakat lokal, dalam hal ini adalah Jawa.

Ziarah Tanah Jawa. Sebuah kumpulan puisi karya Imam Budhi Santosa (mas imam) yang pernah ia tulis dalam kurun rentang waktu 2006 hingga 2012. Sebuah suara tentang perjalanan spiritual mas Imam, perjalanan yang di dalamnya ia belajar dan berguru. Perjalanan menapak jalan pulang. Jalan kembali menuju kampung halaman. Sedang kampung halamannya adalah Jawa, tanah yang kini ia ziarahi.
Malam itu, malam jum’at kliwon. Kamis  30 mei 2013 dalam balutan dingin udara malam Yogyakarta sehabis diguyur hujan, puluhan peserta Tahlil Kitab Puisi secara antusias mendengarkan perwakilan peserta dalam membaca puisi Ziarah tanah jawa.  Beragam ekspresi penghayatan peserta dalam membacakan puisi Ziarah Tanah Jawa. Tak jarang terdengar lantunan shalawat sebelum pembacaan puisi, atau nada-nada mocopat mengiringi setiap bait puisi. Terdengar syahdu dan menyentuh. Sakral.
Dalam acara tahlil tersebut, mas imam membuka forum dengan bercerita tentang menuju republic tanpa satra. Karena menurutnya beruntunglah bagi jutaan ummat yang tak pernah membaca satra, karena seandainya dari jutaan ummat tersebut ada yang menjadi pejabat pemerintah, hakim, politisi, polisi, dan lainnya kemudian berbuat kerusakan dan melakukan kebajedan lainnya, maka ketahuilah itu menjadi wajar, karena sastra, dari berabad silam hingga kini tak pernah merusakan peradaban.
Kenapa Ziarah Tanah Jawa. Paling tidak ada tiga hal yang dituturkan mas Imam, kenapa kumpulan puisi ini hadir di tengah-tengah kita.
Pertama; Pada medio tahun 1963, seorang raja jalanan Malioboro, Umbu Landu Paranggi berkata kepada para jamaahnya, “sekarang kita bubar, kita harus kembali ke tempat masing-masing”. Para jamaah bingung dengan ucapan sang pemimpin, karena sebagian besar jamaah hidupnya menggelandang di jalan dan tak punya tempat kembali. Kemudian ia berkata” kalau tak ada kampung halaman, kembalilah ke diri kalian masing-masing. Kembali ke kampung halaman adalah tafsir luas yang tak hanya menyangkut wilayah geografis semata.
Kedua; Sebelum membenamkan diri dalam khazanah jawa yang kini sudah mulai dilupakan, Mas Imam mempelajari ajaran para leluhur nusantara. Dalam hal ini pribahasa serta pepatah para leluhur dari tiap daerah di Nusantara. Apa hasilnya? Mas imam mendapatkan kekayaan yang tiada terkira yang dimiliki oleh Nusantara. Dan dengan ini jugalah kemudian ia dapat membedakan hal-hal yang ada di Nusantara dan Barat. ia mencontohkan beberapa pribahasa seperti; “terhadap mush kita menang, terhadam kawan kita kalah” dan “kalau pohon di hutan sama tinggi lalu dimana angin lewat.” Ia mempelajari tentang pribahasa Nusantara ini pada pada tahun 1984.
Sedang hal yang ketiga kenapa Ziarah Tanah Jawa ini ditulis adalah ketika Kuntowijoyo, seorang cendikiawan dan sastrawan memberinya semacam motivasi. Itu terjadi beberapa waktu sebelum beliau meninggal dunia, tahun 2007. “Mas Kunto, mengatakan kepada saya,” ujar mas imam. “ Dik… Hampir seratus tahun kita memeperingati hari Kebangkitan Nasional, masa’ tidak ada satu pun yang bisa membuat teori yang berasal dari tumpah darah kita?” kemudian Kuntowiojoyo melanjutkan “ Dik… Setiap kita harus menulis sejarah. Karena sejarah tidak akan utuh  dalam tulisan satu penulis”. Dengan wejangan tersebutlah kemudian mas imam menghadirkan kumpulan puisinya dengan judul Ziaarah tanah jawa.
Ziarah tanah Jawa, di buka dengan Lekuk-liku Perlambang.
Karena Wong jawa Nggone semu
sinamun ing samudana, sesadone ing adu manis
maka, aku tak akan memainkan gelap terang
dalam puisi dan membuatmu tercengang
……………………………………..

Sebuah pembuka yang mengungkapkan tentang nilai-nilai ajaran luhur yang terlambang dalam setiap laku kehidupan masyarakat. Sebuah ajaran yang kini mulai dilupakan oleh masyarakatnya sendiri. Dalam salah satu puisinya yang berjudul Sajadah Ibu, mas imam juga mengungkapkan sebuah petuah dari seorang ibu;

Malam itu, ada bunyi jankgerik di halaman
dan seperti terngiang kmbali engkau mengingatkan
“Anakku, jangkerik itu juga mengaji
sajadahnya tanah basah penuh bekas telapak kaki.
Jadi mengapa engkau memilih tidur serupa patung arca
ketika kerut wajah mulai tampak pada kaca?
……………………………………………………

Dengan puisi-puisinya Mas Imam ingin mengajak kembali kepada kita semua bahwa, ajaran leluhur kita adalah ajaran tentang kebudayaan yang bernilai tinggi, kesantunan, moralitas, peradaban, jati diri dan berbagi hal lainnya tentang kehidupan. Dan itu sudah diwariskan oleh para leluhur nusantara, dan ia juga ada di sekitar kita. Jika kita ingin kembali.

Acara tahlil kitab puisi Ziarah Tanah Jawa ditutup dengan pembacaan puisi oleh Mas Imam Budhi Santosa. Hening malam itu seakan menghayati empat puisi yang dibacakan Mas Imam, kokohnya tiang-tiang Masjid jendral Sudirman seakan mengamini setiap bait puisi yang ia bacakan. Puisi terakhir yang menjadi penutup adalah Ziarah Tembuni. Berikut kutipannya;

Di sana masih tegak pohon mangga bapang
sepasang kelapa gading dan rumpun bamboo kuning
ditambah tebu hitam, meniran, dan kaca piring
melengkapi salam sapa pagar halaman yang ramah dan hening.
“Ya, Aku masih di Jawa.” Bersama welat dan jamu
menyanding pohon srigunggu, tuah tapak liman
serta dewa-daru

“Tetapi, mengapa sekarang engkau merasa jadi tamu…”
Padahal, di sana masih ada makam leluhur
ada nisan kayu batu di tatah dengan goresan paku.
Mereka tak pernah lupa siapa anak cucu
yang dulu nakal, suka mencuri ketela
dan membakarnya malam-malam saat bulan puasa.
Maka, seperti terbangun dari mimpi, kucabuti rumput teki
yang berakar pada dahi mereka, yang menjalar
menutup nama yang pernah mendongengkan kisah Nabi,
Ramayana, hingga Mahabharata.

Puisi ini menjadi penutup yang memukau peserta tahlilan dan membuat mereka serentak bertepuk tangan. Acara berakhir dengan pencerahan tentang kembali pada nilai luhur ajaran para leluhur nusantara. Kamipun bubar, kembali ke tempat masing-masing, atau mencari di mana tempat kami kembali. Di luar langit mulai menampakkan cahaya gemintangnya. Dan udara semakin dingin.

Karangkajen, 05 Juni 2013.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*