Gila

Aku menduga kau tak akan percaya dengan cerita ini. Cerita yang akan mengisahkan seorang gila yang meninggalkan bermacam aroma bunga. Seorang gila di zaman modern. Zaman di mana orang-orang bisa terkekeh tertawa sendiri, senyum sendiri, bahkan marah-marah, meninju , membanting, berteriak, dan menangis sendiri setelah melihat ke layar segi empat yang ia sentuh-sentuh dengan telunjuknya. Tapi ini tejadi. Seorang yang memilih gila dengan waras, dibanding waras dengan beragam kegilaan.

Kisahnya begitu panjang. Aku tak ingin kalian hanya membaca sebagian kisahnya hanya karena kalian bosan. Kalian mungkin terbiasa membaca kata-kata pendek dengan empatpuluh empat karakter, atau curahan singkat tentang kegalauan hati. Dan aku tahu kalian tak terbiasa membaca beribu-ribu kalimat, apa lagi tentang orang gila. Maka ceritanya aku ringkas, agar kalian mengetahui kisahnya.
***
Temannya adalah keheningan. Percakapannya adalah percakapan dalam diam. Sedang bahasanya adalah kebisuan.

Bertahun-tahun ia hidup dalam keheningan. Diam dan tenggelam di dasar palung kebisuan. Tak pernah ia mencoba utuk berbicara layaknya manusia normal dalam keseharian. Ia juga enggan untuk mencari teman yang bisa mendengarkan ia berbicara dalam bahasa yang biasa digunakan kebanyakan orang di sekitarnya, jangankan untuk mempunyai, mencoba saja tak pernah terpikirkan.

Hidup di tengah keramaian adalah bukan pilihannya sejak awal. Karena ia bukan seoang dewa, ia juga buka seorang pertapa di puncak gunung. Ia hidup di tengah keramaian karena ia sedari lahir sudah berada di antara keramaian. Tetapi hidup dalam keheningan, diam serta bisu merupakan pilihan. Pilihan yang ia telah tekadkan.

Mursyid seorang lajang dengan usia kepala tiga. Tinggal di lantai tiga sebuah rumah sewa di pinggir kota. Dunianya adalah sebuah ruang berukuran tiga kali tiga meter. Pernah bersekolah hingga lulus kuliah. Kiranya itu yang membuat ia banyak berubah. Ia bukanlah seorang ahli ibadah yang menjalani hari-harinya dengan berbagai macam ritual agama. Ia juga bukan penganut aliran yang mengharusknannya berzikir serta berdo’a setiap harinya. Ia hanyalah seorang yang manusia yang memilih hening diam, dan bisu. Ia tak mau menyerah dan tak mau kalah.

Wajahnya adalah gudang dari segala yang pernah tersimpan. Amarah yang tertahan, hasrat tanpa saluran,kebahagian yang terlewatkan, cinta tak terbalaskan, kekurangan yang menekan, sedih yang terpendam, kekhawatiran akan segala ketakutan-ketakutan, dan hati yang penuh kegundahan.

Hari-harinya adalah pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Berekelabat perdebatan panjang dalam pikiran tanpa berkesudahan. Menciptakan sosok-sosok idaman yang diharapkan hadir sebagai teman. Ia percaya pada kebenaran, namun menyangsikan sosok yang lekat dengan kebenaran yang bernama. Entah itu agama, tuhan, ibadah, kebaikan, budi pekerti, kesopanan, moralitas, kesantunan, tatakrama, serta berderet nama-nama lainnya yang berbicara atas nama kebenaran. Ia bosan. ia rindu ingin pulang.

Mursyid hidup di tengah keramaian dan ia terasingkan. Ia tidak bercakap dengan manusia. Ia hanya lewat menyelinap menyembunyikan dirinya. Hanya untuk memenuhi kebutuhan raganya.

Pakaiannya berbalut jubah keheningan. Yang kering oleh sinar rembulan. Di balik jubahnya ia bersembunyi. Menepis segala kemungkinan segala pertanyaan yang akan datang menghampiri. Ia tak mau raganya disentuh, Jiwanya ditimbang, moralnya diraba, dan hatinya diterka. Ia tak mau menodai jubahnya dengan keakraban-keakrabnan palsu yang diciptakan orang di sekitarnya. Ia hanya ingin hidup dalam hening, diam, dan bisu.

Dahulu sebelum Mursyid menjalani pilihan hidupnya sekarang, ia adalah seorang murid yang patuh dengan segala wejangan kebaikan. Ia adalah seorang yang mempercayai kebenaran yang diciptakan oleh tangan-tangan suci para agamawan, atau pikiran-pikiran jenius para pilosop. Namun, ada banyak hal yang bertentangan, ada banyak kejadian lucu yang ia tertawakan. Tentang darah yang mengalir di medan perang, atau hilangnya nyawa karena tak bisa makan. Tentang kebaikan yang penuh persyaratan. Tentang budi dan moral yang dipalsukan. Atau bahkan tentang kesucian yang berbalut kemewahan. Apakah memang setiap hal terjadi meniadakan hal lainnya? Seperti keberadaannya meniadakan keberadaan lainnya. Atau keberadaan lainnya meniadakan keberadaan dirinya?. Mengenang itu Mursyid tertawa.

Kini Mursyid hidup dengan keyakinannya sendiri. Menunggu waktu yang akan membawa sukma dan raganya pergi. menunggu sesuatu yang yang akan datang menghampiri kemudian bercerita dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Menunggu pajar baru terbit entah di ufuk dan dunia mana.

Ia sabar menungu waktu itu datang. Sembari menunggu, ia melewatkan malam-malam dengan berjalan, berkeliling mengajak hening mencari jawaban. Ia kerap menjumpai pelacur yang meringkuk kedinginan menunggu pelanggan. Menjumpai tukang sayur yang sibuk menggelar dagangan. Bertemu pemuda yang mabuk dijalanan. Dan terkadang ia kerap duduk berlama-lama di muka sebuah penginapan, melihat para tamu yang berlalu lalang datang berantian, ada yang sendirian, dan yang paling banyak adalah yang berpasangan.

Ia akan kembali ketika kabut pergi. Bersama keheningan ia hanya mendapat semakin banyak pertanyaan. Dan bukan jawaban.

Selain berjalan, Mursyid suka tertawa melihat rembulan atau awan gelap malam. Ia kadang menangis sambil mencium tanah yang ia lalui. Kadang juga marah kepada matahari yang tak pernah mau berhenti untuk datang di pagi hari. Yang paling sering terjadi adalah ia akan duduk berjam-jam di tengah lapangan menatikan hujan dengan segenap kerinduan bila senja datang, saat mentari mulai terbenam.

Pada waktu senggang lainnya, ia akan sangat suka berlama-lama menatap berbagai benda. Berbicara kepada mereka. Ia akan mengelus mesra botol-botol yang ia pungut di jalan layaknya seorang kekasih. dengan penuh perasaan Ia akan mencium dedaunan yang jatuh ke tanah dengan segenap perasaan cinta. Berbicara dengan mereka merupakan dunia lain dari sisi seorang Mursyid. Ia punya bahasa yang menjadikannya akrab dengan apa yang dianggap tidak hidup oleh manusia. Dari percakapnnya, ia mendatangi mereka apa adanya, tanpa manipulasi atau kebohongan yang tersembunyi.

Dalam tidurnya Mursyid bertemu dengan kebahagian serta keceriaan. Ia datang ke dunia yang sangat ia harapkan. Dunia yang dirinya tidak berbentuk. Tidak mempunyai tangan dan kaki, hidung atau telinga. Yang ada hanyalah dirinya tanpa raga. Ia bebas hendak kemana. Ia tidak akan bertemu dengan kebohongan, keserakahan, amarah, serta hal lainnya yang membuatnya sepi terasingkan. Seperti yang ia alami di dunia para manusia. Dunia yang penuh dengan permainan. Dalam tidurnya ia hanya melihat kesatuan yang utuh, kesatuan tanpa hitungan angka-angka. Keseluruhan tanpa definisi yang menjelaskan. Ia adalah mereka dengan dirinya sendiri. Dan mereka adalah ia dengan sendirinya. Tak ada atmosfir di dunia ini, tak juga ada gravitasi, ia tidak berjalan. Ia tidak makan. Ia terbang tanpa sayap. Ia makan hanya dengan sebuah ucapan yang dilafalkan.

Tapi dunia itu hanya hadir ketika ia tidur menjelang mentari terbit. Dan akan hilang ketika mentari lengser dari puncaknya. Ketika dunia itu hilang bersamaan dengan bangun tidurnya, ia akan menangis tersedu-sedu di tepian ranjangnya. Mengharap dunia itu hadir menjemputnya atau ia yang akan mendatanginya. Ia mengalami kerinduan yang tak terperikan untuk datang ke dunia itu. Tidak selagi ia tertidur. Tapi nyata.

Namun akankah Mursyid menjumpai mimpinya dalam dunia nyata. Barangkali ia harus menguji kembali ketangguhan dirinya. Karena setiap kali matanya terbuka, matahari kembali bersinar. Kehidupan kembali berjalan seperti sedia kala. Embun masih saja membasuh dedaunan. Hewan-hewan masih bersuara meneriakkan selamat pagi kepada alam. Dan Mursyid akan duduk kembali berpekur kepada keheningan yang ia ciptakan.

Semakin lama, Mursyid semakin menjadi. Kini ia telanjang. Tanpa pakaian. Ia menampakkan seluruh kulit tubuhnya pada setiap orang yang melihatnya. Dan nama Mursyid, semakin kukuh dalam ingatan masyarakat sebagai orang gila. Orang yang tak pernah waras. Tapi pernahkah kau menjadi orang gila atau menjadi gila. Bagi mereka, kitalah yang gila.

Mursyid telanjang bukan tanpa alasan. Katanya ia ingin mempercepat perjalanan. Perjalanan pulang. Baginya, pakaian adalah kamuflase dari segala keburukan. Ia adalah keindahan yang diciptakan untuk menutupi setiap borok dan koreng yang menjijikkan. Dan telanjang adalah lambang kejujuran, lambang penerimaan dan kesatuan. Tapi Mursyid gila bagi setiap orang yang punya ingatan. Tingkahnya aneh dan lakunya nyeleneh.

Tiga purnama telah berlalu semenjak Mursyid mulai telanjang. Kini ia tak pernah lagi terlihat. Ia raib bagai mentari hilang di ujung lautan saat senja datang. Bila mentari meninggalkan cahaya keemasan, maka Mursyid meninggalkan legenda dan beragam pertanyaan. Kasak kusuk menyebutkan ia pindah ke kota lain. Gosip lainnya menyebutkan ia mati di tembak aparat karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Ada juga yang bilang ia ditahan oleh dinas sosial dan kemudian kembali waras dan hidup pulau lain. Tapi aku punya cerita sendiri, kemana Mursyid pergi. Ini bermula pada suatu pagi.
Aku tiba di kota ini pertengahan tahun saat orang rebut soal siapa ang akan jadi prsiden ketujuh di negaraku. Masih karena lelah perjalanan, dan kantuk yang masih tertahan, aku menyewa sebuah kamar di lantai tiga di pinggir sebuah kota.

Aku hanya ingin membersihkan kamar itu, sebelum membenamkan tubuhku di atas kasurnya. Dan semua itu terjadi begitu saja.

Ketika pintu kamar terbuka, aku merasakan angin berhembus, tak kencang tapi cukup untuk menebangkan kertas-kertas penuh tulisan tangan. Hampir memudar karena lembabnya udara. Dan bukan itu yang membuatku tecekat dan terpana. Hal yang membuat bulu-bulu tipis di sekujur tubuhku meremang adalah aroma yang terbawa oleh angin. Itu aroma melati. Bukan. Segera kuralat penciumanku, ini aroma kamboja.  aku masih ragu, mungkin aroma mawar, anggrek, matahari, kopi, adenium… aku segera keluar. Bulu romaku makin meremang. Kubuka kembali pintu dan bermacam aroma silih berganti menghampiri hidungku. Dan selembar kertas terbang ke arah kakiku. Perlahan kuangkat kertas dan kubaca kalimat pertama yang tertera.
            “Semakin hari, orang menganggapku gila. Beberapa orang pernah menyapaku, bahkan menemuiku di kamar ini.”

Ini catatan tentang dirinya sendiri. Gumamku dengan hati berdebar. Seperti menemukan sepeti emas dan ada orang yang mengintai dan ingin merebut emas tersebut. Segera kukumpulkan setiap lembaran kertas yang terserak. Dan pintu kamar segera kututup. Aku duduk di atas ranjang kemudian berbica kepada diriku sendiri. Aku harus menyampaikan cerita ini. Lisan atau tulisan.

Kawan, mungkin kau akan mengira bahwa tulisanku ini adalah tulisan yang gila dan tak masuk akal. Mungkin juga kalian akan mencibir bahwa cerita ini adalah kreasi terbaru dari khayalanku untuk bahan membual pada saat acara pernikahan atau setelah acara tahlilan. Bahkan mungkin engkau akan mewarta kepada seluruh orang bahwa aku berkeinginan menjai gila seperti Mursyid dalam cerita ini. Apapun perkiraan, kemungkinan dan prasangka yang akan memenuhi kepala kalian, aku bangga telah menyampaikan kisah ini. Bahwa Mursyid, seorang yang gila telah pulang meninggalkan orama wewangian. Dan kelak aku bercita-cita ingin pulang, juga meninggalkan aroma wewangian. Bedanya, aku tak akan meninggalkan catatan. Hanya wewangian. Ya… Hanya wewangian.
Sobo-jogja, April-Agustus 2014





Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*