Hikayat Nabi Ibrahim A.S dan Sirnanya Akal Sehat





“Di antara aliran darah kurban, apa yang diajarkan Ibrahim A.S pada Kita?”

Aku hanya ingin bercerita. Barangkali juga ada sedikit tanya. Karena aku hanya bisa bercerita dan sedikit bertanya. Dan tulisan ini sebagai saranaku bercerita. Kalau dalam bahasa teman-temanku, membual. Ya, membual. Ingin membual langsung, tak ada orang di sekitarku, artinya aku lagi sendiri. Barangkali dengan tulisan ini, ada satu atau dua orang yang akan tahu bualanku pagi hari ini, sesaat setelah masyarakat muslim melaksanakan Shalat Idul Adha. Shalat Hari Raya Kurban. Tema ceritaku pun kali ini tentang hikayat Nabi Ibrahim dan Kurban.
***
Siapa yang tak kenal dengan Nabi Ibrahim. Ia adalah bapaknya para nabi. Ia juga kekasih Allah. Ia juga salahsatu nabi dan rasul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Dan barangkali yang paling kita ingat; ia pernah selamat setelah dibakar hidup-hidup.
Ayah Nabi Ibrahim adalah seorang pembuat patung yang terkenal. Pengrajin sesembahan rakyat pada waktu itu. Gara-gara patung ini juga Nabi Ibrahim pernah berseteru dengan para penguasa. Perseteruan yang  berakhir dengan peristiwa pembakaran.  Nabi Ibrahim selamat, keluar dari sisa pembakaran dengan tubuh yang kedinginan. Jauh sebelum segala peristiwa itu terjadi, ia adalah seorang yang banyak tanya.
Pertama, bermula dari ketakjuban, Nabi Ibrahim mulai bertanya tentang semesta dan siapa yang telah mencipta serta mengaturnya. Ia memulai mencari Tuhannya dengan menggunakan akal sehatnya. Ia berpikir. Sang Pencipta semesta mestilah punya kekuasaan dan kehebatan yang tiada berbanding. Dan ia pasti satu. Karena bila lebih dari satu, pasti akan ada seteru. Tapi apa? Dan itu siapa?
Ketika pagi tiba, matahari bersinar terang, lalu ia berpikir bahwa mataharilah yang menyebabkan semua ini ada. Menurutnya, semua yang ada di bumi tak bisa hidup tanpa matahari. Saat senja tiba, matahari pun mulai hilang. Ini bukanlah pencipta segala, mana mungkin pencipta bisa hilang, dan aku gak suka dengan pencipta yang menghilang. Malam pun datang. Purnama pun benderang. Inilah penguasaku, katanya. Tapi rembulan juga sirna saat pagi menghampiri.
Ibrahim dengan akalnya kemudian menyimpulkan, bahwa ia akan menghadapkan wajahnya kepada Penguasa yang mengendalikan langit dan bumi. Dan ia takkan menyekutukan Penguasa Tunggal itu. Ia tak tahu namanya apa atau siapa. Ia hanya menyembutnya Robbi. Dalam dialognya kepada Sang Pengusa, yang tertera hanya kata Robbun.
Keyakinannya pun akhirnya mengkristal. Ia mulai mempertanyakan Tuhan-tuhan yang disembah oleh penduduk desanya. Tuhan hasil karya tangan ayahnya. Tuhan yang hanya diam dan bisu. Tak memberi faedah atau pertolongan apa pun juga. Patung-patung pun ia hancurkan. Lalu kampaknya ia gantungkan pada leher patung terbesar yang ia sisakan. Saat masyarakat menuduhnya telah menghancurkan patung tersebut, ia ia menyangkal dan menjawab dengan akal sehatnya. Ia balik bertanya, “kenapa kalian tidak tanyakan saja kepada patung yang di lehernya ada kampak. Mestinya ia lebih tahu, toh kampak ada di lehernya, dan ia selalu bersama-sama dengan patung yang lainnya. Jika ia bisa melihat, mestilah ia tahu siapa pelakunya.
Masyarakat geram. Ibrahim pun dibakar. Dan dia kedinginan.
 Kata Alif, temanku, itu adalah proses berpikir yang filosofis. Merenung, kemudian bertanya dengan cara yang radikal. Mendalam. Berpikirnya pun dengan cara yang runtut atau sistematis. Aku hanya mengiyakan saja.  Alif mahasiswa Filsafat.
Kejadian di atas belum seberapa, pertanyaannya yang satu ini, bukan ia tujukan kepada masyarakatnya, rajanya, atau ayahnya. Tapi pertanyaan yang ia ajukan kepada Rabb-nya.
“Rabbi... Tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan sesuatu yang telah mati?” Ibrahim bertanya.
“Belum cukupkah engkau beriman kepadaKu wahai Ibrahim?”
“Aku sudah beriman, tapi ini untuk menentramkan hatiku.”
Ibrahim pun disuruh untuk mengambil empat bagian dari tubuh burung, lalu di taruh setiap bagiannya di gunung yang berbeda. Kemudian ia panggil burung tersebut. Burung itu pun kembali seperti sedia kala.
Melihat kuasa tersebut, sempurnakah iman Ibrahim?
Tiada iman tanpa ujian.
Setelah tahap di atas, Ibrahim pun akrab dengan berbagai ujian. Ujian yang akan menguatkan keimanannya, meneguhkan kepatuhannya, mengokohkan ketaatannya, melanggengkan loyalitasnya.
Pertama. Ibrahim menikah dengan dengan Siti Sarah dalam waktu cukup lama, hingga usia mereka semakin senja. Pernikahan mereka tanpa di karuniai seorang permata yang meramaikan rumah mereka. Seseorang yang akan melanjutkan garis nasabnya atau yang akan melanjutkan perjuangan dalam menyampaikan risalah kekasihnya. Hingga akhirnya ia menikahi Siti Hajar. Beberapa waktu kemudian Sarah mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan melahirkan seorang anak. Ia tertawa mendengar berita itu. Melahirkan di usia senja. Karena itu jugalah anaknya dinamai Ishaq.
Kedua. Kau tahu, memperoleh keturunan adalah impian setiap orang yang sudah menikah. Nabi Ibrahim menunggu itu selama puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun. Tapi tak kunjung tiba. Saat Ismail lahir dari Rahim Siti Hajar, kebahagiannya buncah tiada terkira. Lalu ujian itu pun tiba. Ismail, buah hati tercinta serta Siti Hajar sang Ibu, harus dipisahkan dari sisinya. Ismail yang masih merah, Hajar yang baru saja melahirkan, harus menerima kenyataan. Ditempatkan di padang tandus nan gersang. Bagaimana perasaan Sang Nabi? Adakah ia mempertanyakan perintah Tuhannya? Adakah ia menggunakan kecerdasan akalnya dalam menjalankan perintah Rabb-nya? Ia hanya pasrah menitipkan keduanya kepada Rabb yang ia patuhi.
Ketiga. Belum lagi tunai rindu Ibrahim kepada buah hatinya, Ismail, setelah sekian lama terpisah, keimanannya kembali diuji. Ia harus menyembelih buah hatinya yang tercinta. Buah hati yang sejak lahir diasingkan di padang tandus yang gersang lagi panas. Bertanyakah Ibrahim atas perintah itu? Kemana perginya akal sehat Ibrahim saat mendapat perintah itu lalu menunaikannya? Tertawakah Ismail mendengar perintah Abahnya? Tidak. Ibrahim menunjukkan ketaatannya, ketundukannya, kepatuhannya. Tanpa basa-basi. Tanpa syarat. Sedang Ismail, menunjukkan kepatuhan kepada ayahnya, serta kesabaran yang tiada terkira. Dengan tegas ia menjawab, “wahai ayahku, laksanakan apa yang diperintahkan. Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tahukah kau apa itu sabar? Apa itu patuh? Apa itu Taat? Apa itu pengorbanan? Apa itu hidup? Dan Apa itu perjuangan?
Lalu Kita?
***
Kawan, aku telah bercerita sedikit pagi ini. Terselip juga sedikit pertanyaan. Kan sudah aku katakan sebelumnya, aku hanya bisa bercerita dan juga sedikit bertanya. Seandainya pun ada yang mau balik bercerita, aku akan senang menerimanya. Tentang sedikit pertanyaan di atas, aku sarankan tak usah  repot-repot menjawabnya untukku atau untuk orang lain. Cukup dijawab sendiri dengan jujur dan simpan ia baik-baik dalam hati. Wallau a’lam bisshowab.
Selamat Hari Raya Kurban 1435 H.

Karangkajen, 10 Dzulhijjah 1435 H.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*