Hikayat Nabi Ibrahim A.S dan Sirnanya Akal Sehat
Aku hanya ingin
bercerita. Barangkali juga ada sedikit tanya. Karena aku hanya bisa bercerita
dan sedikit bertanya. Dan tulisan ini sebagai saranaku bercerita. Kalau dalam
bahasa teman-temanku, membual. Ya, membual. Ingin membual langsung, tak ada
orang di sekitarku, artinya aku lagi sendiri. Barangkali dengan tulisan ini,
ada satu atau dua orang yang akan tahu bualanku pagi hari ini, sesaat setelah
masyarakat muslim melaksanakan Shalat Idul Adha. Shalat Hari Raya Kurban. Tema
ceritaku pun kali ini tentang hikayat Nabi Ibrahim dan Kurban.
Siapa yang tak kenal dengan Nabi Ibrahim.
Ia adalah bapaknya para nabi. Ia juga kekasih Allah. Ia juga salahsatu nabi dan
rasul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Dan barangkali yang paling kita ingat;
ia pernah selamat setelah dibakar hidup-hidup.
Ayah Nabi Ibrahim adalah seorang pembuat
patung yang terkenal. Pengrajin sesembahan rakyat pada waktu itu. Gara-gara
patung ini juga Nabi Ibrahim pernah berseteru dengan para penguasa. Perseteruan
yang berakhir dengan peristiwa
pembakaran. Nabi Ibrahim selamat, keluar
dari sisa pembakaran dengan tubuh yang kedinginan. Jauh sebelum segala
peristiwa itu terjadi, ia adalah seorang yang banyak tanya.
Pertama, bermula dari ketakjuban, Nabi
Ibrahim mulai bertanya tentang semesta dan siapa yang telah mencipta serta
mengaturnya. Ia memulai mencari Tuhannya dengan menggunakan akal sehatnya. Ia
berpikir. Sang Pencipta semesta mestilah punya kekuasaan dan kehebatan yang tiada
berbanding. Dan ia pasti satu. Karena bila lebih dari satu, pasti akan ada
seteru. Tapi apa? Dan itu siapa?
Ketika pagi tiba, matahari bersinar terang,
lalu ia berpikir bahwa mataharilah yang menyebabkan semua ini ada. Menurutnya,
semua yang ada di bumi tak bisa hidup tanpa matahari. Saat senja tiba, matahari
pun mulai hilang. Ini bukanlah pencipta segala, mana mungkin pencipta bisa
hilang, dan aku gak suka dengan pencipta yang menghilang. Malam pun datang.
Purnama pun benderang. Inilah penguasaku, katanya. Tapi rembulan juga sirna
saat pagi menghampiri.
Ibrahim dengan akalnya kemudian menyimpulkan,
bahwa ia akan menghadapkan wajahnya kepada Penguasa yang mengendalikan langit
dan bumi. Dan ia takkan menyekutukan Penguasa Tunggal itu. Ia tak tahu namanya
apa atau siapa. Ia hanya menyembutnya Robbi. Dalam dialognya kepada Sang
Pengusa, yang tertera hanya kata Robbun.
Keyakinannya pun akhirnya mengkristal. Ia
mulai mempertanyakan Tuhan-tuhan yang disembah oleh penduduk desanya. Tuhan
hasil karya tangan ayahnya. Tuhan yang hanya diam dan bisu. Tak memberi faedah
atau pertolongan apa pun juga. Patung-patung pun ia hancurkan. Lalu kampaknya
ia gantungkan pada leher patung terbesar yang ia sisakan. Saat masyarakat
menuduhnya telah menghancurkan patung tersebut, ia ia menyangkal dan menjawab
dengan akal sehatnya. Ia balik bertanya, “kenapa kalian tidak tanyakan saja
kepada patung yang di lehernya ada kampak. Mestinya ia lebih tahu, toh kampak ada di lehernya, dan ia
selalu bersama-sama dengan patung yang lainnya. Jika ia bisa melihat, mestilah
ia tahu siapa pelakunya.
Masyarakat geram. Ibrahim pun dibakar. Dan
dia kedinginan.
Kata
Alif, temanku, itu adalah proses berpikir yang filosofis. Merenung, kemudian
bertanya dengan cara yang radikal. Mendalam. Berpikirnya pun dengan cara yang
runtut atau sistematis. Aku hanya mengiyakan saja. Alif mahasiswa Filsafat.
Kejadian di atas belum seberapa,
pertanyaannya yang satu ini, bukan ia tujukan kepada masyarakatnya, rajanya,
atau ayahnya. Tapi pertanyaan yang ia ajukan kepada Rabb-nya.
“Rabbi... Tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan sesuatu yang telah mati?” Ibrahim bertanya.
“Belum cukupkah engkau beriman kepadaKu wahai
Ibrahim?”
“Aku sudah beriman, tapi ini untuk
menentramkan hatiku.”
Ibrahim pun disuruh untuk mengambil empat
bagian dari tubuh burung, lalu di taruh setiap bagiannya di gunung yang
berbeda. Kemudian ia panggil burung tersebut. Burung itu pun kembali seperti
sedia kala.
Melihat kuasa tersebut, sempurnakah iman
Ibrahim?
Tiada iman tanpa ujian.
Setelah tahap di atas, Ibrahim pun akrab
dengan berbagai ujian. Ujian yang akan menguatkan keimanannya, meneguhkan
kepatuhannya, mengokohkan ketaatannya, melanggengkan loyalitasnya.
Pertama. Ibrahim menikah
dengan dengan Siti Sarah dalam waktu cukup lama, hingga usia mereka semakin
senja. Pernikahan mereka tanpa di karuniai seorang permata yang meramaikan
rumah mereka. Seseorang yang akan melanjutkan garis nasabnya atau yang akan
melanjutkan perjuangan dalam menyampaikan risalah kekasihnya. Hingga akhirnya
ia menikahi Siti Hajar. Beberapa waktu kemudian Sarah mendapatkan kabar gembira
bahwa ia akan melahirkan seorang anak. Ia tertawa mendengar berita itu.
Melahirkan di usia senja. Karena itu jugalah anaknya dinamai Ishaq.
Kedua. Kau tahu,
memperoleh keturunan adalah impian setiap orang yang sudah menikah. Nabi
Ibrahim menunggu itu selama puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun. Tapi
tak kunjung tiba. Saat Ismail lahir dari Rahim Siti Hajar, kebahagiannya buncah
tiada terkira. Lalu ujian itu pun tiba. Ismail, buah hati tercinta serta Siti
Hajar sang Ibu, harus dipisahkan dari sisinya. Ismail yang masih merah, Hajar
yang baru saja melahirkan, harus menerima kenyataan. Ditempatkan di padang tandus
nan gersang. Bagaimana perasaan Sang Nabi? Adakah ia mempertanyakan perintah Tuhannya?
Adakah ia menggunakan kecerdasan akalnya dalam menjalankan perintah Rabb-nya?
Ia hanya pasrah menitipkan keduanya kepada Rabb yang ia patuhi.
Ketiga. Belum lagi tunai
rindu Ibrahim kepada buah hatinya, Ismail, setelah sekian lama terpisah, keimanannya
kembali diuji. Ia harus menyembelih buah hatinya yang tercinta. Buah hati yang
sejak lahir diasingkan di padang tandus yang gersang lagi panas. Bertanyakah
Ibrahim atas perintah itu? Kemana perginya akal sehat Ibrahim saat mendapat
perintah itu lalu menunaikannya? Tertawakah Ismail mendengar perintah Abahnya?
Tidak. Ibrahim menunjukkan ketaatannya, ketundukannya, kepatuhannya. Tanpa
basa-basi. Tanpa syarat. Sedang Ismail, menunjukkan kepatuhan kepada ayahnya,
serta kesabaran yang tiada terkira. Dengan tegas ia menjawab, “wahai ayahku,
laksanakan apa yang diperintahkan. Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.” Tahukah kau apa itu sabar? Apa itu patuh? Apa itu Taat? Apa itu
pengorbanan? Apa itu hidup? Dan Apa itu perjuangan?
Lalu Kita?
***
Kawan, aku telah bercerita sedikit pagi
ini. Terselip juga sedikit pertanyaan. Kan sudah aku katakan sebelumnya, aku
hanya bisa bercerita dan juga sedikit bertanya. Seandainya pun ada yang mau
balik bercerita, aku akan senang menerimanya. Tentang sedikit pertanyaan di
atas, aku sarankan tak usah repot-repot
menjawabnya untukku atau untuk orang lain. Cukup dijawab sendiri dengan jujur
dan simpan ia baik-baik dalam hati. Wallau
a’lam bisshowab.
Selamat Hari Raya Kurban 1435 H.
Karangkajen, 10 Dzulhijjah 1435 H.

Comments