Merhaba... Merhaba... Merhaba.....


Kafirkah aku atau mukmin sejati
Allah saja yang tahu, siapa diriku!
Namun yang kutahu: aku pelayan sang Nabi
Sang penguasa Madinah Kota Suci
(Sir Kishad Prasad Shad)
Kedatangannya adalah ramalan kitab-kitab suci agama samawi. Namanya adalah cahaya yang dinanti oleh setiap hati yang tercerahkan. Dunia riuh tentang kehadiran Yang Terpilih. Merintih karena rindu akan kehadirannya. Berabad setelah Isa sang pengasih, kegelapan tak terelakkan. Penyimpangan merajalalela. Dan Arab berselimutkan kegelapan; kejahiliyahan.
Semua berubah ketika ia dilahirkan.

Cahaya menerangi setiap penjuru dunia, dan sepenuhnya tenggelam dalam kemilau cahayanya. Angin tak kuasa bersuara, onta-onta tak mampu melangkah, dan pohon-pohon kurma merunduk tunduk menyambut kedatangan Al-Mustafa. Semesta dengan nalurinya insyaf jua. Bahwa Sang Cahayalah yang menjadi sebab apa yang tercipta. Bahkan, “cahayanya sudah berinar terang sebelum segalanya”, tulis Iqbal dalam syair indahnya.
Hadirnya adalah iringan selaksa mentari dalam mengiringi bakti hari-hari duniawi. Pendaran cahaya wajahnya adalah kumpulan cahaya ribuan purnama. Mengasuh setiap jiwa anak manusia, di setiap sudut semesta. Tak ada yang luput dari usapan ketulusan dan kelembutan jiwanya. Dengan nama Muhammad yang cemerlang menjadi dian bagi dunia yang terlalu lama dalam kegelapan. Seorang Penyair Afrika kemudian berkata, ”sejak kau melangkah menuju maulid, kau telah menyongsong pesona-pesona surgawi”.
Dialah Ahmad pancaran dari Ahad. Dialah Shad pancaran As Shamad. Dan menjadi Muhammad ketika hadir memberikan rahmat dan manfaat bagi kaum arab yang tersesat. Sedang ‘Mim’, adalah tabir pembeda antara pencipta dan yang dicipta, antara bagian dan keseluruhan. ‘Mim’ adalah lambang penderitaan, lambang kesabaran, lambang penantian, yang bila terlampaui apa tak beda anatara Ahmad dan Ahad. Hingga Atthar berkata dengan indah “pancaran sinar perwujudan menjadi nyata, dan ‘Mim’, dari Ahmad pun tak terlihat nyata”.
Semesta mengeja namanya dengan keinsyafan penuh harapan. Sebuah nama yang terukir indah bersahaja di dasar ‘Arsy Ilahi sedangkan di atas ufuk ‘Arsy yang berputar adalah tempatnya ada. Kemulian Al Musthafa ditulis beiringan dengan namaNya. Keindahan namanya adalah Asma’ Syarifah yang selalu bersanding dengan Asma Al Husna. Begitu dekatnya ia dengan kekasihnya, ia seperti cahaya rembulan yang diambil dari cahaya mentari.
Namanya adalah Tha Ha. Nama suci pribadi yang bersih, tak pernah diliputi iri, dengki dan segenap kepentingann pribadi. Hingga helaan nafas terkahir, suara yang keluar dari mulut yang selalu menebarkan mutiara, mulut seorang Yaa Siin; Ummati… Ummati… Ummati… Umatku… Umatku… Umatku…
Lihatlah Sa’diyah yang faqir lagi miskin. Rumahnya berpendar cahaya karena air susunya menelusup masuk kedalam diri baginda Al Mujtaba. Domba-domba kurus yang tak terurus itu pun berlimpah susunya, karena berkah dan kemuliaannya. Berkah bagi ibu susunya.
Ia adalah yatim piatu yang tumbuh besar dengan kemandirian, menjadi gembala di usia belia, berniaga di usia remaja, karena tak ingin merepotkan Abu Thalib paman tercinta. Dan lihatlah, awan menjaganya dari terik yang mendera, hingga seorang rahib membaca tanda. Tanda untuk seorang yang telah dinanti keberadaannya. Bukankah setiap peristiwa yang terjadi padanya adalah sebuah tanda? Sebuah isyarat bahwa ialah Sang Musthafa.
Dia adalah Al Amin. Yang terpercaya. Ia berniaga tak hanya demi keuntungan semata. Hingga masyarakat simpati akan cara yang begitu bersahaja, dan keuntungan datang dengan sendirinya. Sang saudagar kaya pun akhirnya terkesima. Ialah Khadijah. Yang memercayakan hartanya pada Muhammad yang masih remaja. Keuntungan semakin berlipat ganda, simpati pun bertambah, hingga khadijah jatuh cinta.
Dia adalah kedamaian bagi masyarakatnya. Kala banjir memenuhi Makkah, dan batu hitam itu sudah berpindah dari tempatnya. Para pemuka berselisih tentang siapa yang berhak mengembalikan pada tempatnya semula. Muhammad muda tampil ke muka, memberikan pendapat yang tak terduga. Batu kembali pada tempatnya, dan para kepala suku puas tanpa perlu tumpah darah.
Dia adalah kelembutan cahaya purnama. Tengoklah kisah yahudi tua lagi buta. Setiap hari tak henti mencaci sang Nabi. Ia datang kepada yahudi tua, dengan roti yang telah lumat dan lembut. Dengan tangan sucinya, ia suapi si yahudi dengan rendah hati.
Ia adalah adalah kesabaran tanpa batasan. Bagai ibu, yang tak marah karena kenakalan anaknya. “itu semua karena mereka belum mengetahui”, jawab sang Nabi kala jibril menawarkan gunung untuk melumatkan kaum yang melemparinya dengan batu. Atau kepada seorang tetangga yang selalu melempari kepalanya dengan kotoron yang hina.
Ia adalah kebijaksanaan. Seorang pemimpin yang mengayomi setiap permasalahan ummatnya. Tengoklah kaum kafir zimni yang aman hidup di Madinah. Hingga Rumi berkata dalam syairnya “ pemimpin kafilah kami adalah kebanggaan dunia; Mustafa.” Dan dalam sajak indahnya Iqbal menulis,” di hari pengadilan, kami mempercayainya, dan di hari ini pun, dia pelindung kita.” Dan “cukuplah bagi kami Al Mustafa” tulisnya.
Ia adalah Al Mudatsir. Yang menyingkirkan selimutnya untuk bangkit menyampaikan perintah Kekasih. Menyampaikan kabar gembira serta pedoman hidup masa depan. Walau tantangan datang tak kunjung henti, dari keluarga sendiri hingga para penguasa yang keji. Ia tetap tabah.
Ia adalah ketabahan. Setiap tetes air matanya menjelma mawar yang merekah. Menjelma aroma melati yang semerbak mewangi. Karena ia adalah buah dari pengorbanan yang mulia, keindahan serta kedamaian masa depan.
Tengoklah ketika Khadijah, belahan hati tercinta, serta Abu Thalib, pembelanya yang tiada dua, kembali kehadirat sang kekasih, ia terpekur dalam kesedihan tapi tak larut dalam derita, hingga lupa pada ummatnya. Tak pernah.
Atau, masa susah, ketika Makkah tak lagi ramah padanya, hingga sang Baginda berhijrah ke Madinah. Kelaparan, kehausan dan kelelahan sepanjang perjalanan, ia lewati dengan ketabahan. Tak terdengar satu pun kata keluhan.
Dia adalah penghulu bagi segala Nabi. Yang cahanya bersinar di kening Adam hingga semua malaikat tunduk sujud padanya. Dialah penolong Nuh dalam pelayaran, ketika banjir bandang. Dia adalah karunia bagi Ibrahim ketika dibakar dalam api yang menyala, ia menyaru menjadi kayu bakarnya. Wajahnya adalah api yang menyala di bukit Tursina bagi perjalan Musa, dan bibirnya mengajarkan Isa bagaimana menghidupkan yang telah tiada.
 Dia adalah ruh bagi ummatnya. Mengalir dalam darah yang penuh dengan kecintaan. Dialah  tauladan yang tak meninggalkan harta warisan selain dua pedoman kehidupan. Dialah yang berkata pada haji perpisahan,” bukankah telah aku sampaikan?” sang Bagindalah yang telah menyebabkan sebatang pohon kurma merintih lirih dan sedih, karena tak lagi menjadi sandaran bagi Al Mujtaba ketika khutbah. Dialah yang kini abadi dalam setiap sanubari ummatnya. Mengalir bagai udara yang memenuhi setiap rongga dada manusia yang berikrar bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Kini kami hanya bisa merindumu, mengikuti jejakmu, mengamalkan ajaranmu, mencitai keluargamu, serta masih dan akan selalu berharap pada payung syafaatmu. Dan kami dalam kelemahan dan lumur dosa, hanya bisa berkata lirih, dapatkah kami membalas jasamu secara bersahaja. Semoga shalawat selalu tercurahkan pada baginda agung Rosulullah. Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad wa ‘Ala Ahli Baitihi Thohirin..

*interpretasi dari buku “Dan Muhammad Utusan Allah”, karya Annemarie Schimmel. Terbitan Mizan.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*