Keputusan





Waktu kita belum terhenti adinda. Ruang kita juga belum terpisah. Aku masih yakin besok masih ada hari-hari yang akan kita lalui. Kita: Kau dan Aku.
Keraguan itulah yang menjadi tembok tinggi nan tebal dan membuat  jarak antara kita. Ia adalah tembok yang tak bisa dinaiki atau ditembus hanya dengan untaian do’a serta baris kata-kata. Ia hanya bisa dilalui dengan keberanian serta keyakinan. 

Aku tahu kau hanya menungguku menembus tembok itu atau meruntuhkannya. Ya, kau tahu karena aku jualah yang membangun tembok itu. Sedang kau, masih seperti biasa: dirimu beserta ketenangan yang berbalut senyuman. Sesekali kau pun mengumamkan harapan serupa mantra, “Aku bukan Dewi Sita, bukan pula Rabi’ah.” Dan aku pun tak seperti Rama..
Siapa yang paling berkuasa atas diri kita adinda? Siapa jua yang akan bertanggung jawab atas diri kita? Siapa yang tahu apa yang akan kita temui di balik tirai esok hari? Dan apa yang akan menjadi buhul nan teguh pengikat kita?
Ada bayang-banyang hitam yang kadang datang. Ia seperti ekor yang bergelayut di belakangku atau ia seperti sekawanan gagak yang terbang di atas kepalaku. Ia membuatku gugup, berdebar, merinding dan membuatku hilang arah, lupa pada adinda di sana. Bayang-bayang itu kelam. Ia berbau tajam namun tak urung membuatku menginginkannya dan di sisinya aku datang. Ia seperti memberiku jalan untuk bebas dari kekangan. Ia sering datang saat malam, terutama saat aku dalam kesendirian.
Saat pagi datang ada embun yang menyapa tubuhku. Ia sejuk dan menenangkan. Di Setiap tetes beningnya, ia seakan berkata; “Selesaikan semua kusam dan lekat hitam di tubuhmu karena yang suci hanya akan bertemu dengan yang suci”.  Kadang aku ikuti anjuran mulia itu, dan saat itulah aku sering teringat engkau adinda. Engkau yang masih menunggu dengan rapalan do’a tanpa jeda.
Banyang-banyang hitam itu terkadang lebih menggoda dari embun yang penuh dengan kepastian. Namun keduanya tetap butuh satu hal yang sama, ia bernama keyakinan dan keberanian. Barangkali aku belum punya itu, atau aku masih terpesona dengan segala bayang-banyang itu? Aku masih bergelut. Masih melangkah dengan kaki dan wajah yang kadang berbeda. Atau kakiku masih ingin menjelajah.
Waktu dan ruang yang masih tersedia itu akhirnya membentuk dua arah: Untuk kita, atau untuk segala ‘ingin’ yang kucitakan.

 

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*