Aku, Kopi Dan Selinting Tembakau

Ini adalah satu babak dari episode panjang dari sebuah cerita yang pernah dilwati, ini hanya satu parade yang sangat singkat dalam sebuah pentas panggung kehidupan, ini hanyalah sebuah riak kecil dari gelombang besar emosi anak manusia. kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak aktivitasku yang bisa jadi tiada berguna apalagi bermakna. Akan tetapi inilah kisahku, berguna atau tidak, mudharat apa manfaat, bermakna atau sia-sia bukanlah menjadi hal yang penting lagi setidaknya dalam kontek ini. Dan inilah kisahku.


Hening menyambutku ketika pintu kamarku aku buka, kamar paling belakang yang sangat terpncil dari ruang manapun di Rumah tua ini. Kamar yang hanya "bisa" di masuki oleh orang-orang tertentu, yang yang hanya karab dengan kesunyian, hanya suara cicit tikus yang kerap terdengan menjelang azan subuh berkumandang. Kamar yang hanya menyisakan bau tak sedap, dan bau kertas-kertas lusuh yang berumur puluhan tahun. kamar ini pula yang memendam begitu banyak rahasia para penghuninya semenjak puluhan tahun silam. apapun itu inilah kamarku. dan ia adalah sebuah kamar.

Melewati ruang tengah yang tetap terasa sepi dan hening juga, aku melangkah menuju kamar mandi, ya kamar mandi yang langsung berhadapan dengan dapur. ya dapur dan dan kamar mandi dua hal penting bagi sebuah rumah dan penguninya mengingat dua hal tersebut adalah yang asangat vital bagi penghuninya. Kutoleh sejenak jam didinding yang menempel di atas pintu, ahh... ternyata masih jam tiga dini hari ada waktu satu jam setengah untuk menunggu azan subuh.

berrrrr... dinginnya air menyapa mukaku, membuat kantuk hilang dan ruhku kembali berkumpul yang kemudian memulihkan semua kesadaran, maataku kupaksa untuk melek dengan membasuhnya sebanyak mungkin, agak pedih emang tapi itulah solusi biar otak bisa memerintahkan mata unut tetap terjaga. masuk kembali ke ruang tengah, aroma keheningan masih saja tercium mesra, arsip arsip tua yang setia menjadi saksi bagi para penghuninya.....


Langkahku diam, penuh waspada, ada kekhawatiran kalu menimbulkan suara akan mengganggu perjalanan mimpi penghuni rumah, baik yg terlihat maupun yang ghib.. derit pintuku sebisa mungkin ku minimalkan agar mereka tetap tenang dalam buaian mimpi. Antara enggan dan tuntutan bertarung dalam benakku, pertarung dalam melaksanakan tugasku sebagai hamba, ini adalah pertarungan nurani dan nafsuku. Walau tampak tak menang sepenuhnya,, nuraniku unggul untuk tetap melaksanakan tugas tersebut...

Hening... konsentrasiku penuh... ntah di dunia mana aku kini, seperti hilang di tengah keramaian jagad semesta, masuk dalam sebuah relitas yang sesungguhnya, realitas tak berwktu apalagi mempunyai ruang. Kondisi ini membuat aku tak tahu siap diriku, seakan berubah dari segumpal daging menjadi sesuatu yang tak terdefinisikan...

pedar-pedar cahaya menghiasi sekelelingku, ada terang yang semakin benderang hadir dan semakin mendekat. Akalku tak mampu mencerna apa yang sedang terjadi, hatiku pun mulai meraba dan merasa, cahaya apa ini? belum sempat meniimati terangnya cahaya ini lebih dalam kesadaranku kembali sepenuhnya... otakku langsung menyadari bahwa aku telah kembali ke ruang ini, kamar sempitku di balakang, waktu kini, menjelang muculnya garis putih tanda fajar akan segera tiba..

Sunyi kembali menyergapku, tak ada igauan yang menghiasi tidur teman-temanku, tak ada suara cicit curut yang biasa hadir... pandanganku terpaku pada pintu triplek yang telah lama menutupi rahasia penghuni kamar ini, kiri kanan tembok beton kamarku tak lelah berbicara dan menjelaskan bahwa mereka masih setia menyimpan misteri penunggu kamar ini, dan bersedia akan menjadi saksi kelak di hari pertanggung jawaban.

Assalamu'alaikum... Terdengar bel ototmatis tetangga sebelahku berbunyi, itu pertanda sebentar lagi kumandang azdan subuh akan menghiasi langit jogjakarta... sebuah tanda akan dimulai aktifitas kehidupan manusia yang ada di kota ini. aku membereskan tugask malam ini dengan menyisakan banyak pertanyaan.

Kopi, ya segelas kopi akan membuatku lebih fresh dalam berfikir, paling tidak menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Aku tengok persediaan Gula dan Kopi, serak bungkus kopi langsung menhiasi pandangan, genangan kecil air di atas meja sisa tumpah air seakan berbicara tentang satu kondisi... Selagi menunggu air mendidih, kusiapkan gelas untuk kopiku pagi ini, dua setengah sendok kopi sudah mengisi gelasku, kubereskan yang masih terserak, kebersihkan yang masih terlihat kotor, kebiasaan yang sudah lama tidak aku lakukan...

Segelas kopi panas menyertaiku dalam hening fajar, menemani serta merangsang sesak fikirku tentang semua. Kepala yang hanya berukuran sebesar bola takraw ini dipenuhi berbagai macam fikir, bahkan ruwet macet ibukota pun tak bisa mengalahkannya, kadang ia hadir dalam satu fikir tentang sebuah status dan gengsi sebagai seorang yang terpelajar, kemudian melompat tentang fikir seorang sahabat yang penuh dengan problematika persahabatan, ahh, bukan problematika tapi dinamika, pertemuan, kebutuhan, kasih sayang, dan sederet tanggung jawab sebagai seorang teman atau sahabat. Tidak jarang juga fikir tentang seorang hamba datang memotong dan menyalip dalam mesra fikirku tentang kisah anak manusia yang dipenuhi getar-getar rasa yang berevolusi kedalam satu kisah asmara... ya, fikir sebagai hamba selalu datang dalam setiap fikirku mengenai apapun juga, bahkan pada tingkat laku pun ia kadang memotong dan mengacaukan segalanya. Celaka...!!! bentak egoku pada diriku, kenapa kau tak bisa walau sedikit menikmati sedikit saja dari kenikmtan badani ini... hahahahahaha.... nurani dalam batin jiwaku terbahak tertawa seakan ialah penguasa atas badan fana nan nista ini... seakan ialah yang memegang kunci gembok besar penjara fisikku... ah.. sudahlah rasioku hanya bisa menggerutu dengan ketidakpuasannya dalam menjelasakan semuanya.

ting tung.. asslamu'alaikum.... kembali suara salam elektrik membawaku keduniaku kini, pada waktu menjelang subuh, pada ruang depan rumah tua ini... kulirik kepulan asap dari gelas kopiku mulai berkurang sebuah pertanda kadar panasnya mulai turun, itu berarti syaraf lidahku udah mulai berdamai untuk mencicipinya... sruutt... jelas terdengar hirupan ketiga pada kopiku itu, jelas terdengar karena memang belum ada suara lagi selain suara itu.

Sekilas tampak pada mataku sebuah lambang yang sepenuhnya tidak aku mengerti kenapa ia di cipta, sebuah simbol yang bagiku sangat angkuh, setidaknya dalam kesanku fajar ini. Ya itu sebuah tanda yang tak pernah dimaknai sebagai sebuah penanda... hanya saja ia begitu kokoh kemudian menjadi angkuh walau kemudian ia akan rapuh, retak bahkan hilang termakan rayap. Tapi ia begitu berarti dam rumah ini, seakan ia merupakan salah satu dari sekian banyak cahaya ilahi, menjadi spirit tersendiri bagi para penghuni, yang menggerakkan setiap nurani -yang juga bagian dari cahaya ilahi- untuk tetap tegak menantang halang rintang sebuah perjuangan. Hmm, (mungkin) tak penting lagi untuk mengetahui sebuah arti dari lambang dan simbol itu, karena (mungkin) ia sudah menjadi darah itu sendiri.

Sebuah teriak kecil dari bibirku yang langsung membuat otakku kaget alang kepalang, yang dengan waktu sepersekian detik langsung beri perintah kepada mata, tangan, bibir, hidung dan paru-paruku, sehingga terciptalah sebuah tindakan ... puss.... asap selinting tembakau yang kuhisap membumbung... menyeruak pada udara depan rumah tua ini...

Satu fikir tentang sebuah zikir yang tak lazim, aksi yang bagi manusia kini adalah satu kesia-siaan yang tak ada toleransi, dengan dalih karena ia berbahaya. Ya, asap itu tidakkah ia salah satu makhluk yang bertasbih dan selalu memujanya? atau ia hanya sekadar kumpulan dari zat-zat adiktif yang sangat berbahaya? hmm.. konspirasi licik apa lagi ini? ah sudahlah, kau manusia kini, hanya seonggok daging yang banyak berbicara, celoteh sana sini, berdalih ini itu, padahal tak pernah tahu apa-apa... ah kau manusia kini, kau timbun jiwa sucimu dengan sampah 'ilmiahmu',..
Tak tahukah bahwa jiwamu berontak dan sangat tersiksa dengan kuburan yang kau ciptakan...

Nikmat rasa dari selinting tembakau ini terus saja kunkmati, seirng itu juga kepulan asapnya semakin membumbung, ntah ia hilang, atau menyatu dengan udara sumpek kamar depan ini atau juga ia bertemu dengan sekian banyak asap yang semakin membumbung tinggi ke angkas hitam hari ini. Fikirku juga langsung melayang pada sebuah desa di kaki gunung di sebuah kabupaten di jawa Tengah. sebuah desa yang kebanyakan pencarian ereka adalah bertani tembakau, ah.. bukan cuma ptaninya, akan tetapi juga para buruhnya, yang berkejar dengan cuaca dan kondisi alam yg tak menentu, sebagaimana mereka berkejar dengan hidup serta kehidupan mereka yang tak pernah berhenti, makan, seklah anak, kebutuhan rumah tangga, dan sederet ktidak menetuan lainnya. ya, tembakau yang penen serta hasilnya sangat bergantung dengan kondisi alam, gmana jadinya panen mereka kalau hujan terus mengguyur atau panas terus menerpa, belum lagi tingakah para cukong, tengkulak, dan perusahaan yang bisa menetukan hrga seenakanya karen memang mereka yang kasih hutang buat mopdal bertaninya... ahhh... indonesiaku... yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

aku hirup kembali kopiku.... serttt... begitu air hitam itu menyentuh lidahku dan melewtai tenggorokan dan sampai keperut, aku mendapatkan satu rasa yang ku beri nama nikmat. Sekejap saja rasa itu aku nikmati, kemudian aku langsung berada pada satu kondisi yang mana dihadapanku tampak wajah-wajah letih nan lelah, wajah-wajah bertabur keringat yang bercmpur debu. Ya... itulah wajah para petani kopi yang lelah selama berbulan-bulan mengurus kebunnya, yang kemudian berakhir dengan harga jual yang hanya menutupi kebutuhan dasar kehidupan mereka. Letih... Lelah... perjuangan panjang untuk mengubah butiran hijau merah kopi menjadi hijau merah kertas yang bernama uang rupiah... tapi harus bagaiman inilah yang sudah lama dilakukan, dan inilah yang bisa kami kerjakan,,, kira-kira begitulah mereka bicara.

Selinting tembakauku dan segelas kopiku sudah memuai dan menyatu dengan dan dalam ragaku, entah fikir atau bayangku akan kopi dan selinting tembakauku pun sudah berakhir pada fakta bahwa aku masih disini duduk pada shofa kamar depan rumah tua ini, sebuah fakta yang mengatakan bahwa aku belum berbuat apa-apa.

satu kesadaran akan tanggung jawab kembali hadir pada saat-saat seperti ini, dan kembali pergi pada saat-saat berikutnya. kulangkahkan kakiku kembali kekamar belakang, kulihat tembok, lemari, dan rak bukuku masih tetap seperti awalnya tak berubah apalagi berpindah, karena memang tugasnya ada disana... bukan seperti diriku yang tetap dan mantap karena tak tahu tugas apa yang sedng aku emban sekarang. mataku kembali menjelajahi setiap sudut dari kamar ini, entah aku yang sedih, atau mereka yang bersedih, ini adalah malam terakhirku disini, dan ini adalah fajar terakhirku aku disini, dan ini adalah sudut terakhirku dalam setiap inci aktivitas rumah tua ini... ya... aku akan pergi, bahsa sederhananya akau akan pindah, ntah karena apa dan untuk apa nyatanya aku harus pindah. aku masih berharap ada yang mengingatku selama aku di rumah tua ini, dan ini wajar aja sebenarnya, akan tetapi sisiku yang lain berbicara keras, ' Tidak ada yang akan mengingat aktivitasmu di rumah tua ini, apalgi memperhitungkan dirimu sebagai seorang yng berarti bagi keberadaan Rumah Tua ini, yang mereka ingat hanya tiga hal saja, Fisikmu, Kopimu, dan Selinting tembakau mu...

................Tamat.............

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*