Dia Gadis Berkerudung Merah

Oleh: yang sekarang bernama Pauzan S.

Gadis berkerudung merah yang kadang menjelma di alam mimpi. Kadang datang di pagi hari atau hadir di sela tawa dan canda mereka. Gadis berkerudung merah yang dengan kehadirannya menambah satu warna baru dalam hidup mereka yang selama ini hanya punya dua warna yakni hijau dan hitam, gadis berkerudung merah juga menjadi penambah hangat kopi dan djisamsu dipagi hari. Gadis berkerudung merah juga menambah cerita tentang indahnya Nusantara.


Nusantara, nama bagi negeri mereka yang sudah lama hilang ditelan oleh angkuhnya sang waktu, sebuah nama yang mengingatkan kita akan kejayaan satu peradaban, keagungan satu nilai kehidupan, kekayaan warisan alam, serta semangat ksatria yang tiada terkira. Ya, dialah Nusantara yang tidak kalah indahnya dengan gadis berkerudung merah, menjadi perbincangan tiada henti untuk satu kesadaran tentang jati diri, hadir dalam bincang pagi untuk memupuk rasa percaya diri, mengukuhkan keberadaan jiwa-jiwa satria sejati, serta menjadi satu semangat untuk kebangkitan dalam kekaburan satu makna tentang negeri yang kita cintai, yang kini bingung untuk dimegerti.

Negeri kita kini, Indonesia namanya, republik pemerintahannya, pulau-pulau dalam bingkai kesatuan menjadi wilayahnya, berbagai macam adat, suku dan budaya menjadi cirinya, dipimpin oleh satu presiden, SBY panggilannya. Perbincangan tentang negeri ini tak kalah menarik dan seksi dibanding dengan gadis berkerudung merah atau kejayaan nusantara, ia juga datang menyela dalam bincang pagi atau bincang penutup hari, walau terkadang perbincangan tentangnya menimbulkan rasa pesimis, bahkan menguras emosi, dan tak jarang kata-kata umpatan keluar dari mulut yang bau nikotin. Ya, begitulah keadaannya, umpatan pada penguasa negeri yang berlagak pahlawan untuk menegakkan keadilan, kesejahteraan dan kedaulatan. Walau akhirnya kita juga mengerti bahwa yang berlagak pahlawan hanya bisa berbicara, bercerita dan bersilat lidah.

Kalau hanya sekedar berbicara dan berbicara, kita juga sering berbicara tentang mulianya karakter para Anbiya, tentang luhurnya jalan suci para Auliya’, atau bahkan berbicara tentang perjuangan serta rintihan suci para Ahlu Bait Nabi. Kalau hanya bisa berbicerita tak mesti jadi pejabat, apalagi harus jadi presiden. Kita juga bisa bercerita bahkan dari pagi sampai zuhur tak jarang sampai menjelang asar, dan cerita kita juga tak kalah hebatnya, kita bercerita tentang besarnya Sriwijaya, tangguhnya raja Brawijaya serta keturunannya, tentang seorang patih Gajah Mada, atau tentang Padjajaran dan gagahnya Prabu Siliwangi. Cerita lain yang menarik , ada cerita cinta Arok, Umang dan Dedes, Dyah Pitaloka, cerita cinta Putri Jeggala, atau bahkan cerita cinta pangeran Jagadhita dan putri Sobakencana. Itu yang saya bilang kalau sekedar cerita, mereka juga bisa cerita tak mesti harus jadi pejabat.

Terakhir, kembali ke dia gadis berkerudung merah, saya tak pernah tau yang mana gadis berkerudung merah dalam bincang mereka, tapi siapapun dia, paling tidak ceritanya memberi makna dalam ruang sesak hidup kekinian, ia menjadi pengantar bagi bincang sejarah nusantara lama, ia menjadi awal dari cerita kekecewaan tentang negeri ini beserta para penguasanya, gadis berkerudung merah juga telah menghantarkan kita pada kisah suci para perempuan tangguh yang pernah ada, ia juga menjadi inspirasi untuk mengerti kisah cinta para raja-raja dan pangerannya. Kawan, semua yang bincang yang hadir, mulai gadis berkerudung merah, kejayaan nusatara, kisah suci para Nabi dan para Wali, kisah cinta para raja dan pangerannya, dan kisah tentang bobroknya para penguasa kita, semua dirangkum dalam episode-episode forum pagi di bagian depan sebuah kontrakan, yang bernama Hauzah Banguntapan. Wallahu a’lam bisshowab.

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*