Di Ujung Karpet Merah Dia Duduk dan Termangu.
Oleh: Paoezan'S
Ujung karpet merah, tempat duduk baginya, termangu melihata dunia.
Dunia dalam sebuah kotak. Dunia maya orang menyebutnya. Ujung karpet merah
pulalah yang menjadi saksi kantuk matanya setelah mentari beranjak tinggi,
mengusir malam panjang yang ia lewati. Malam-malam panjang, menatap kabar berita
tentang dunia dengan segala hiruk pikuknya. Atau hanya sekadar bersapa dengan
kawan lama yang bertahun-tahun tak bersua. Sekadar sapa atau coba menanam
cinta.
Dia bisa terus berkelana -melupakan aku disampingnya-, menjelajah
seluruh dunia. Bercerita tentang kisah, pada semua yang tak punya raga.
Berdebat tentang ulah para pejabat yang tak bertanggung jawab. Menjelajah dunia
maya, dunia tanpa ruang dan waktu. Menyusur Indonesia Raya, melihat rakyat yang
menderita, menatap kondisi yang kian menyayat hati. Tak semua mengenaskan, ada
juga yang membahagiakan. Tentang para pemuda yang kreatif, perduli pada masa depan negri ini.
Baiklah aku kisahkan padamu tentang dimana posisi karpet merah,
serta artinya bagi dia. Aku juga akan mewarta padamu tentang situasi, ketia ia
duduk termangu. Menejelajah keseluruh negri.
Udara dingin malam menyapa tubuhnya melewati celah pintu kamar yang terbuka. Masuk
melalui pori-pori kulit. Perlahan menusuk tulang dan persendian. Berrrr…
dinginnn.. suara jangkrik melantun bersahutan sayup, dari kali disamping kamarnya.
Merdu. Suara kodok ambil bagian dalam menciptakan melodi indah pada malam
dingin. Suara kodok melantun, berbareng dengan kecipak ikan-ikan di kolam
depan. Indah. Komunikasi spesies yang menyemarakkan senyap dan dinginnya malam.
Kamarnya beukuran 3 X 2 ½ meter, ruang tamu, apalagi beranda. Lampu
putih 18 watt menyinari seluaruh ruangnya. Terang. Di tepian jendela, berjejeran
bungkus rokok, sikat gigi beserta pastanya. Melintang sebuah tali rafiah merah. Tempat menggantung handuk dan celana.
Kadang-kadang juga sajadah. Tepat dibawah jendela (masih dalam ruang kamarnya),
terletak aneka ragam barang yang tak teratur. Sepasang sepatu. Deterjen. Kabal
yang semrawut. Aneka sampah yang tebungkus oleh plastic berwarna. Asbak dari
pecahan gelas. Botol-botol air mineral.
Seperangkat computer lawas terpasang sederhana tanpa meja. Beralas
karpet hijau muda. 1 X 1 meter. Keyboard beralaskan bundelan skripsi dan satu buku
tentang reformasi. cukup untuk membuat nyaman jari mengetik. Sedikit lebih
tinggi. Aneka tembakau, kertas lintingan serta daun nifah menjadi hiasan
didepan seperangkat computer lawasnya. Satu sound yang suaranya soak ntah punya
siapa. Cukup untuk membuat kamarnya tak diliputi senyap.
Dibelakang pintu yang tak pernah terbuka lebar. Dua kardus tua yang
menyimpan berkas-berkas selama kuliah tergelatak ala kadarnya. Sebuah ember
ukuran sepuluh liter melengkapi kesesakan belakang pintu. Di atasnya,
tergantung baju-baju apek yang lama belum tercuci, memebuat nyaman bangsa mosquito.
Sisa ruang kamar 3 X 2 ½ meternya adalah tempat peraduan. Tempat bermimpi. Sekaligus tempat
bermunajat. Diujungnya sebuah rak menghimpun buku-buku, sering kali tak berjejer rapi. Lipatan-lipatan bajunya ada di rak
paling atas. Tak banyak. Hanya beberapa helai.
Lantai dingin keramik putih kamar ditutupi (tak sepenuhnya
tertutup) oleh sebuah karpet merah berukuran 1 X 2 meter. Persegi panjang.
Sebuah karpet plastik. Warnanya merah. Agak kecoklatan. Bolong sana-sini. Banyak
bercak hitam tanda panasnya api rokok sering mampir disana. Diujung karpet
itulah Dia duduk dan termangu. Nanar menatap layar. Nanar menatap masa depannya
yang suram.
Ujung karpet merah, disanalah ada jasa, senantiasa bersedia menjadi
alas bagi empuk daging pantatnya. Menjadi penyelamat atas dinginnya lantai
kamarnya. Kamar yang bertetanggga dengan kamar mandi. Lembab. Kelembaban tak
urung jua menyebabkan rayap betah beranak pinak. Menjadikan tumpukan buku-buku
ladang makanan penuh gizi. Itulah kamarnya, kamar ukuran 3 X 2 ½ meter, dengan
karpet merah sebagai alas utama.
Dialah yang selalu resah, duduk lama sepanjang malam, dengan hati
selelu gelisah. Aku seorang temannya sering tak diacuhkannya, seakan aku tak
pernah ada, seakan aku hanya rangka saja, karena dera mengelucak tenaga. Dan
biasanya ia akan bertanya, “ sekarang jam berapa?” “Sudah pagi” jawabku.
(Chairil Anwar, 1943). Dan ia masih juga duduk dan termangu di ujung karpet
merah.
Comments