Rindu ( pada) Ibu
Bu, musim kemarau semakin panjang. Tumbuhan menjadi gersang. Tanah makin berdebu. Air sudah lama menjadi barang yang langka. Tampaknya kemarau ini akan lebih panjang. Sepanjang jalan umurku, bersama kemarau yang menjelma musim abadi dalam hati. Keteduhan serta kesejukan telah lama pergi, semenjak aku pergi. Keteduhan yang berasal dari wajahmu, kelembutan serta kasih sayang dari pancaran mata Ibu. Kini, aku merindui semuanya. Sedang Ibu masih jauh disana.
Bu, dalam hening malam dan dingin aura
pegunungan. Aku bermimpi bertemu denganmu di depan rumah kita, juga dengan aura
pegunungannya. Dingin. Sejuk. Dalam tidurku Ibu berkata, “ Pulanglah kalau
sudah lelah, istirahatlah dalam pelukan Ibu. Sandarkan tubuhmu pada hangat
kasih sayang Ibu. Ceritakanlah semua gulana dalam hatimu. Kalau ada air mata,
jemari Ibu kan menghapusnya.” Ketika terbangun mataku sembab. Hanya suaramu dan
wajahmu yang kulihat. Tak bisa kupeluk ragamu. Aku rindu. Ibu.
Bu, puluhan tahun yang lalu. Ibu pernah
berjuang, mempertaruhkan jiwa dan hingga kini terus berjuang. Tubuh Ibu penuh
dengan keringat. Sesekali air mata menghiasi putih wajah Ibu. Hanya untuk
menyelamatkanku. Hanya untuk menolongku melihat dunia. Air mata Ibu semakin
deras mengalir, berbanding dengan kerasnya teriakan tangisku. Air mata bahagia.
Aku yang menangis tentunya juga bahagia. Bahagia karena lahir dari rahim Ibu. Bahagia
karena darahmu mengalir dalam darahku. Sekali lagi aku bahagia. Kalau orang
tidak percaya, nanti aku akan ajak bertanya kepada Malaikat yang ada waktu itu.
Malaikat saksi akan kehadiranku. Malaikat yang telah menguatkan Ibu.
Bu, masih berdendang cerita-cerita tentang
pelajaran hidup dalam ingatanku. Cerita tentang si Perut Genting, yang perutnya
putus karena kurus. Lama menanti padi yang hendak dituai. Cerita tentang Pak
Pandir yang yang memang pandir dalam hidupnya. Cerita Pak Belalang yang selalu
beruntung tapi pemalas. Cerita tentang Mat Jenin yang suka mengkhayal. Dan
masih banyak cerita lagi, yang mengantarkanku menuju
peraduan.
Tidur. Sampai lelap. Hingga kini tak terlupakan. Andai-andai.
Dongeng dalam bahasa kita. Bahasa Ibu.
Bu, pesan Ibu agar tak lupa dengan bahasa kita
terpatri kuat semenjak kepergianku. Bahasa adalah identitas. Bahasa adalah
kebanggaan. Bahasa adalah jati diri. Bahasa adalah kehormatan. Walau tanah
tempat bahasa Ibu dilahirkan jauh dari keberadaanku, bahasa Ibu tak mungkin aku
lupakan. Bahasa kasih sayang. Bahasa kebaikan. Bahasa kepedulian. Bahasa
toleransi. Bahasa manusia. Bahasa Ibu.
Bu, setiap kasih yang engkau curahkan adalah
oase di tengah kegersangan. Pengorbanan yang engkau berikan adalah kesetiaan tanpa
imbalan. Wajah dengan sejuta senyuman adalah pelajaran tentang sebuah
ketulusan, arti tentang keikhlasan, tanda bagi sebuah syukur dan ketabahan.
Semua itu, kini bergumpal menyesakkan dalam diri anakmu. Sesak akan kerinduan
yang mendalam. Kerinduan yang tak terperikan. Kerinduan akan pertemuan.
Kerinduan sebuah dekapan, pelukan, hangat kasih sayang. Aku rindu. Ibu.
Bu, aku tak ingin Ibu menangis. Aku tak ingin Ibu
susah lagi. Aku tak ingin Ibu lebih banyak menderita. Biarlah anakmu berjalan
dengan kakinya. Kelak ia akan menyusur kembali jalan ke rumah. Jalan menuju
tempat ia bermula. Tempat ia pertama mendapatkan air susunya. Tempat ia dulu
bermanja. Tempat ia menumpahkan airmatanya. Tempat itu adalah pangkuanmu.
Pangkuan Ibu. Ya, pangkuanmu. Ibu.
*dari kisah seorang sahabat*

Comments