Wonosobo dalam Kenangan
Oleh: Pauzan. S
“Ada
yang berubah dari wonosobo, sumuk!!!”. Begitulah bunyi
status terbaru temanku di Facebook. Ahmad Khoirul Umam
namanya. Aku biasa memanggilnya Umam. “Aja mulih ndise’ pak,
aku arep mengana mengko sore”, komentarku pada statusnya.
Dengan bahasa Jawa ala kadarnya. Aku memberitahukan tentang
keberangkatanku.
Sore
itu, dari Yogyakarta aku berangkat menuju Wonosobo, kota kecil yang
diapit oleh dua gunung. Gunung Sumbing dan Sindoro. Sejuk. Dingin.
Menjadi ciri khas kota yang banyak menghasilkan sayur mayur tersebut.
kota yang seringkali menjadi tempat kunjunganku bersama teman-teman
tentunya. Walau kadang juga pernah sendiri.
Awal
tahun 2008 adalah kunjungan pertama ke kota Wonosobo. Sendiri. Malam
hari. Dengan hujan deras yang mengiringi perjalanan. Jalan menanjak
berkelok. Gelap tertutup kabut. Ada juga rasa jerih dalam hati karena
jalan begitu sepi. Dinginnya cuaca dan basah air hujan membuat kulit
sudah tak merasa perih dengan satu cubitan. Maka konskuensi mati pun
tak lagi ditakutkan. Jam 10 malam aku sampai di kota itu. Itu
kunjungan pertama. Kunjungan pertama yang berlanjut pada kunjungan
kedua. Kunjungan kedua membuatku jatuh cinta. Jatuh cinta pada kota
dengan sejuk udaranya. Selanjutnya, perasaanlah yang berkata, bahwa
tak hanya sekadar sejuknya udara, lebih dari itu, keberadaanku di
sana seperti ada kenangan lama yang kembali menyeruak dalam hidup
kekinian.
Pusakaning
Dwi Pujangga Nyawiji. Tulisan pada lengkung gerbang masuk kota
Wonosobo selalu menyambut setiap orang yang ingin memasuki kota
tersebut. Aku pernah bertanya kepada seorang mahasiswa asli Wonosobo.
Wardi namanya. Katanya, Dwi Pujangga artinya gunung Sumbing
dan Sindoro. Nyawiji, Menurut perkiraaanku adalah menyatu. Dua
pusaka yang menjadi satu. Wonosobo. Kira-kira itulah tebakanku.
Beberapa orang yang aku tanya menjawab tidak terlalu tahu.
Kalau
ditanya apa yang terkenal dari Wonosobo, selain dingin, maka jawabnya
ada dua, Dieng dan tradisi potong rambut anak gembel. Anak
yang dilahirkan berambut gimbal. Konon, di dataran Dieng, anak
yang dilahirkan dengan rambut gimbal, kalau tidak dipotong menjelang
baligh akan berdampak pada celaka. Mendapatkan musibah.
Menjadikan acara potong rambut sebuah ritual sakral. Upacara
besar-besarpun dilaksanakan. Pada hari, tanggal, dan bulan tertentu,
tidak sembarang waktu dilaksanakan. Karena sekali lagi, itu acara
sakral, menyangkut hidup mati serta kesejahteraan yang bersangkutan.
Lebih jauh lagi, menyangkut keselamatan warga sekitar. Banyak media
yang meliput. Ritualpun menjadi hiburan bagi para wisatawan, menjadi
study bagi para akademisi, menjadi pemasukan bagi pemerintahan, dan
menjadi nilai jual bagi dinas pariwisata.
Acara
itu semakin terasa istimewa ketika anak yang rambutnya dipotong akan
meminta sesuatu kepada orang tua mereka. Dan harus di turuti. Kalau
tidak, semacam bala’ akan menimpa, musibah juga akan
melanda. “Untung waktu kecil mereka dipotong rambutnya, kalau udah
dewasa bisa repot orang tuanya, karena mereka bakal minta rumah,
mobil, dan lain sebagainya.” Selorohku ketika temanku Umam
bercerita tentang hal permintaan itu.
Alun-alun
Wonosobo terkesan rapi dan teratur ketika aku mampir di sana. Di
suatu sore. Sebagai sebuah public sphare, alun-alun berfungsi
untuk tempat warga melakukan rekreasi murah meriah, ada juga yang
berolahraga, atau hanya sekadar berkelompok dan bercerita. Dari
alun-alun Wonosobo ke barat, akan kita temui jalan menanjak dan
nantinya akan sampai ke sebuah situs terkenal. Dataran tinggi Dieng.
Nama yang aku kenal ketika SD dulu. Komplek Dieng adalah tempat
wisata sekaligus tempat situs bersejerah. Telaga Warna menjadi minat
bagi pengunjung yang sedang penat. Ada juga candi petilasan ketika
Gatot Kaca hendak terbang mengudara. Cukup untuk menghibur bagi
mereka yang berminat pada sejarah dan mereka yang suka dengan hal-hal
purbakala.
Udara
dingin yang menyelimuti Wonosobo membuat perut lebih cepat
keroncongan. Untuk memfasilitasi itu, kuliner Wonosobo cukup beragam
untuk memuaskan para pendatang. Ada mie ongklok yang khas
Wonosobo. Mie yang direbus dengan kubis, kemudian disiram dengan saus
yang terbuat dari tepung kanji. Sedap. Minumannyapun tak kalah
menarik. Ada Carica, minuman permentasi dari buah Carica,
yag konon hanya ada di Wonosobo. Mungkin dulunya ia minuman para
bangsawan sana.
Jika
Yogyakarta adalah kota warung angkringan, dengan nasi kucing sebagai
andalan. Wonosobo punya megono untuk nasi porsi mini. Sego
Pitik kata temanku. Nasi yang dicampur dengan oseng gori
serta ikan teri. Gurih. Apalagi kalau ditambah Tempe Nggunung.
Tempe setengah bunder berbentuk gunung. Dibalut dengan terigu. Dengan
uang dua ribu rupiah. Seporsi megono dengan tempenya sudah
bisa membuat perut kenyang.
Senja
pada hari itu akan segera berlalu, sura gemericik air yang jatuh dari
himpitan batu kali membuatku terbuai. Terpaku diam di atas
batu. Larut dalam kenangan empat tahun silam, awal bagi sebuah
kunjungan. Sore ini bertepatan hari lahirku, aku akan memulai hidup
baru. Suasana baru. Wonosobo dengan aura pegunungan. Kembali ke alam,
tentram dan nyaman. Bersih. Bebas dari polusi. Akupun bergegas
meninggalkan kali. Kali dengan batu-batu berserakan.
Kali tempat menyendiri. Tempat perenungan. Perenungan tentang sebuah
perjalanan. Perjalanan panjang. Melelahkan.
Wonosobo-yogyakarta, 13-16
september 2012.
Comments