Ambruknya Kampus Kami
Ruangan kelas itu begitu riuh. Cekikikan seorang mahasiswi
berjilbab ungu mencuri perhatian. Kesal Raihan melihatnya. Entah canda apa yang
dilontarkan oleh teman sebangkunya, hingga ia begitu bersemangat terkikik
tertawa, hingga tampak
giginya yang sedikit kuning, serta tak rata, dengan taring yang tumpul. Sama sekali tak bersinar dan tak menarik. Semakin membuat
pandangan Raihan kesal.
Suara-suara yang ngebass juga
terdengar di samping
kanan Raihan,
sekelompok mahasiswa
asyik bercerita. Tentang seorang gadis yang jadi rebutan. Sedikit yang ditangkap oleh telinga kanan Raihan. Sedang lamat-lamat, suara kecil terdengar dari depan kelas. Tertangkap
oleh celah kecil telinga Raihan.
Itupun setelah Raihan berkosentrasi
penuh untuk mendengarkan. Suara seorang dosen. Dosen yang sedang mengajar mereka siang hari itu.
Keheranan
Raihan belum tuntas. Berselang berapa menit
kemudian suara dosen berhenti. Ia menawarkan apa ada yang ingin ditanyakan. Serentak mahasiswa
menjawab-kecuali dirinya
yang mahasiswa baru- “cukup
pak, belum makan, udah siang.” Sebuah korr yang mengagetkannya. Raihan melihat jam di handphone, masih tersisa waktu setengah jam lagi.
Pak dosen hanya menurut
saja. Kuliah pun berakhir.
Mahasiswa keluar ruangan. Meninggalkan
dirinya dan segepok
keheranan.
Dua tahun silam, adalah Raihan, seorang
mahasiwa strata satu.
Semester sepuluh kala itu. Di sebuah kampus Islam terkenal di jagat Indonesia raya.
Dengan nama seorang Wali
yang termasyhur. Terkenal karena kesederhanaan dan
kedekatannya pada kaum papa. Angka semester Raihan sudah mendekati limit. Kartu mahasiswanya harus sudah berganti. Tanda waktu
kuliahnya tidak lama
lagi. Tetapi Raihan masih terjebak pada bangku putih yang terasa panas di pantat. Dengan dinding ruangan
kokoh, juga berwarna putih. Membatasi pandangannya dari segala macam dunia luar sekitar
kampus. Ya. Raihan mengulang beberapa mata kuliah yang belum lulus. Pendalaman
ilmu, bahasa halusnya. Maklum, kita hidup di atas tanah
yang mengagungkan segala macam kehalusan. Baik bahasa maupun tingkah laku.
Sepuluh orang mahasiswa mengisi ruangan kelas yang dimasuki Raihan. Jumlah
yang sedikit untuk ukuran kelas mahasiswa jurusan favorit di fakultas. Salah satu alasan utama Raihan memilih kelas ini adalah karena waktunya yang tidak
seperti kelas-kelas lainnya. Setelah mengikuti dua kali perkuliahan Raihan
mengerti bahwa ini adalah kelas mandiri yang baru dibuka di kampusnya. Kelas yang menampung
mahasiswa-mahasiswa tidak lulus pada ujian tulis, PMDK, atau jalur-jalur lainnya. Tentu dengan
biaya yang berbeda dari mahasiswa pada umumnya. Lebih mahal. Raihan bertanya
dalam hati kenapa mereka mau ambil jurusan ini dengan biaya yang tidak sedikit.
Pertanyaannya membentur
jendela-jendela rapi yang berjejer. Hilang bersama angin sumpek kelasnya siang hari ini.
Pada hari yang lain Raihan juga
masuk beberapa kelas semester menengah. Antara semester lima dan semester tiga. Seorang ibu dosen yang mengajar pada
mata kuliah metode penelitian, banyak berbicara tentang kesibukannya dan
prestasi yang ia lakukan
buat kampus ini. Mulai dari mendampingi rektor, hingga bertemu dengan pejabat-pejabat
yang ada di pusat sana. Ah.. Pejabat pusat!!! Mata kuliah yang ia ajarkan kepada para mahasiswa sangat
tekhnis sekali. Tekhnik mebuat skripsi. Cepat lulus, “tak usah banyak teori
dengan baca buku yang banyak, cukup kalian cari di internet aja” ujarnya sekali
waktu menjelang akhir kuliah. Raihan
tersenyum kecut mendengarnya. Raihan berfikir kemudian bertanya pada dirinya, mungkinkah
mahasiswa lama bisa mengurangi tingkat kualitas kampus? Berpengaruh terhadap
akredetasinya? Sebuah standar bagi kualitas universitas. Dan ada apa dengan
cepat lulus?
Tak usah banyak baca buku? Cukup cari di internet? Ah...
setidaknya tak perlu uang banyak
buat beli buku. Tak usah menghabiskan banyak waktu hanya untuk membaca. Sebuah
usul yang bagus. Anjuran yang baru Raihan dengar. Meruntuhkan
semua apa yang pernah Raihan bayangkan tentang sebuah penelitian.
Dalam beberapa
perkuliahan yang Raihan ikuti, cukup sering ia mengajukan pertanyaan pertanyaan mendasar tentang kenapa dan bagaimana. Tentang keunggulan teori yang kita
pelajari di sini. Tak banyak yang bersimpati. Tatapan-tatapan tajam selalu menghampiri. Entah karena
mereka kesal waktunya diambil. Atau barangkali menganggap pertanyaan itu tak
penting sama sekali bagi sebuah kepentingan praktis. Raihan yang salah ataukah mereka. Entahlah.
Pada dinding-dinding Raihan
bertanya. Memantul. Pertanyaannya balik lagi ke otak Raihan. Mengendap. Kemudian
busuk.
Kadang Raihan bertanya sendiri, kadang juga beberapa temannya dimintai pendapat. Apa yang
kita dapatkan dari perkuliahan ini. Dari kegiatan pembelajaran yang
membosankan. Menghabiskan
waktu. Toh, yang kita dapat juga banyak dari buku-buku yang dibaca. Beberapa
temannya ada yang
menjawab. Pasti ada yang kita dapatkan. Mulai dari cara bagaimana diskusi,
presentasi, dan beberapa pengetahuan yang diceritakan oleh para dosen.
Dalam benak Raihan, kampus hanya menyediakan selembar kertas yang
bernama ijazah. Tak banyak
yang diharapkan lebih dari itu. Kenapa ijazah begitu penting dalam
kehidupan kini. Ia tidak menjadi jaminan bagi sebuah kecerdasan. Ia juga tidak
menjanjikan sebuah pekerjaan. Tapi, ia begitu penting. Tanpanya ada pandang
sebelah mata. Tidak punya ijazah berarti kadar otakmu pas-pasan saja. Tak punya ijazah satu alamat
bahwa pangkatmu tak kan
naik tingkat. Ah.. ijazah.
Ijazah hanya bisa didapatkan di bangku kuliah. Ya, syaratnya
adalah kuliah. Empat tahun lamanya. Duduk di atas bangku, dinding-dinding kokoh, papan tulis warna
putih. Tak ketinggalan celoteh dosen tentang berbagai macam teori yang diceritakan. Bosan. Ya.
Tidak. Ya juga. Dapat ilmu. Kemungkinan, lalu apa? Dapat teman, terkadang mengasyikkan.
Kadang juga bisa dapat istri. Pulang pulang bawa momongan. Kedua orang tua
dapet gelar nenek sama kakek. Mengasyikkan. Tidak. Membosankan. Itu jelas.
Puluhan ribu setiap tahunnya sarjana dihasilkan. Semua
dengan sebuah ekspektasi yang sama. Sebuah pekerjaan. Jaminan kesejahteraan.
Sedang yang mau hidup setiap harinya di indonesia ada sekitar 340 juta orang.
Hohoho... siapa yang melibas siapa ya. Siapa yang menggilas siapa ya. Ahh..
mending ngopi aja.
***
Gelap di awal hari beranjak pergi. Mentari ingin kembali
bertahta pada singgasananya. Semburat putih cahayanya membuat cerah kampung
kami. Kampung mereka. Tempat Raihan numpang
tinggal. Matahari pagi menghangatkan
tubuh Raihan. Menghangatkan lapisan bumi. Menguapkan embun-embun pagi yang
bening. Bergelayutan di pucuk-pucuk daun. Aktivitas kembali dimulai. Raihan
sudah rapi. Semalam ia kuyup diguyur hujan, dalam perjalanan menuju desa ini.
Menuju kampus baru yang ia harapkan. Ia punya jadwal kuliah padat. Dari pagi
hingga sore hari. Ia sudah mantap. Tak akan kalah oleh godaan-godaan sesaat.
Suasana
kampus sudah mulai ramai oleh mahasiswa yang berdatangan. Namun kelas-kelas
masih nampak kosong. Beberapa mahasiswa bergerombol. Berbincang tentang
perkuliahan minggu kemaren. Ada juga yang sibuk membicarakan hujan deras tadi
malam. Mungkin rumah mereka ada yang banjir. Atau atap kost serta kontrakan
yang bocor. Sesekali tertawa menghiasi obrolan pagi mereka. Raihan mendekati
seorang mahsiswi yang lagi sendiri. Teman sekelasnya. Ia bertanya ada tugas ngga’ minggu kemaren. Sekedar untuk
memastikan.
Kelompok-kelompok
kecil mahasiswa mulai bubar. Sebagian sudah memasuki kelas. Tanda bahwa dosen
telah datang. Perkuliahan akan dimulai. Raihan beserta teman-temannya juga
memasuki sebuah ruangan. Wajah mereka cerah. Maklum, masih dalam suasana
semangat pagi. Di ruangan. Pak dosen sudah mulai bercerita tentang mata
kuliahnya. Raihan merasa aneh, mata pak dosen selalu saja menatap ke atas.
Seakan ada seorang peri yang mengawasinya. Sedang mulutnya terus saja
bercerita. Sedang mahasiswanya, sibuk sendiri dengan berbagai aktivitasnya.
Raihan menggumam,”ini teman-teman mau cari ilmu apa ijazah ya?” raihan tersenyum
kemudian. Teringat bahwa dirinya juga kuliah karena hal ijazah juga.
Ketika
waktu Tanya jawab tiba, Murba, teman sekelas Raihan bertanya. “Pak, kira-kira
di mana kita bisa mendapatan referensi mata kuliah kita. Referensi yang utama,
bukan hanya referensi kedua atau ketiga. Karena ini penting bagi kita semua?”
pak dosen diam sejenak kemudian menjawab. “Saya hanya bisa merekomendasikan
beberapa karya ini. Untuk yang lainnya kalian bisa cari sendiri.” Murba pun
diam walau tampak ketidak puasan di wajahnya. Raihan kembali tersenyum kecut.
Karena pak dosen yang baru lulus eS Dua itu tak banyak memberi informasi.
Ah…
berbicara referensi, sudah rahasia umum bahwa di negeri ini, sudah cukup puas
dengan apa yang telah ditulis oleh sarjana-sarjana luar negeri, tanpa harus ada
lagi penelitian-penelitian labih lanjut tentang negerinya sendiri. Pemerintah
juga seakan tak memperhatikan serius para peneliti. “Negara tak punya cukup
dana.” Komentar mereka. Jadi, menjadi wajar kalau kita banyak krisis dalam identitas kedirian.
Kita enggan untuk mengenal diri kita sendiri. Jadi wajar kalau kita hanya bisa
mengkonsumsi, bukan memproduksi.
Raihan
cukupkan lamunannya. Ruang kelas sudah mulai riuh. Sebentar lagi kuliah
berakhir, kuliah selanjutnya telah menunggu. Keluar ruangan, Raihan mengambil
tempat duduk di depan kelas. Riuh rendah suara mahasiswa masih saja terdengar.
Bahkan tambah ramai dan semarak. Bergerombol di depan kelas masing-masing. “Mas
Raihan, mata kuliah ntar kosong. Tadi
bapaknya baru sms, dia lagi ke luar kota.” Suara seorang mahasiswa mengejutkan
Raihan. Raihan menjawab informasi tersebut dengan ber-ooooo ria. Akhirnya Raihan
pulang ke kontrakan.
Selain
kuliah, Raihan dulunya sering mengikuti diskusi-diskusi, datang belajar ke
tempat para ahli dibeberapa bidang keilmuan. Dalam satu forum, Raihan teringat
dengan omongan seorang peneliti. “Dulu, sebelum jadi rektor, pak Tsiqoh itu
produktif dalam meneliti, menulis, serta kegiatan keilmuan lainnya. Sekarang
setelah masuk birokrasi, malah diam tak menghasilkan karya.” Ujarnya menyinggung
seorang rektor kampus ternama. Raihan jadi bertanya dalam hati, apakah kampus
bukan gudangnya ilmu ? Lalu kalau bukan kampus, di mana lagikah gudang ilmu
itu. Sama seperti pertanyaan sebelumnya, tak ada jawaban buat Raihan.
Sekian
banyak pertanyaann raihan yang tak terjawab, akhir terakumulasi pada satu titik
pemberontakan. Protes. Protes akan dunia akademis yang tak akademik. Ia mulai
gerah dengan lingkungannya. Lingkungan kampus.
Sekarang
Raihan sedang getol-getolnya bersuara. Beberapa dosen ia kritik. Organisasi
mahasiswa ia ia pertanyakan. Tak mendidik, tak ada kerjaan selain demonstrasi
merusak dan ajang tempat pacaran. Tak ketinggalan Intra kampus. Dari BEM samapi
UKM. Semua ia kritik, karena semua tak lagi berpihak. Semua sudah menjadi politik.
Sarat dengan kepentingan, dan kelanggengan kekuasaan pihak tertentu. Raihan
mulai dibenci, pandangan sinis kerap ia jumpai. Tapi Raihan tetap berkeras
hati. Daripada diam kemudian terkalahkan. Lebih baik bersuara walau tetap
kalah.
Hari rabu
adalah hari jadwal padat para mahasiswa. Artinya, banyak mahasiswa dan dosen
yang datang ke kampus. Kuliah jam pertama Raihan kosong. Dosennya kembali
bolos. Entah alasan apa kali ini. Ia sudah tak perduli. Jam kedua, dosennya
telat satu jam. Datang setelah para mahasiswa diliputi kebosanan. Kedongkolan
Raihan semakin memuncak. Ia sudah tak tahan. Ia tak lagi berfikir tentang
ijazah.
Kampus
gaduh, mahasiswa berhamburan menuju lapangan. Sebuah suara yang bergetar dan
menggelegar terdengar sangat lantang. “……..
Aku Bertanya, Tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang
macet, dan papantulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan
kehidupan.”[1]
Itu bukan suara pengumuman. Itu adalah suara Raihan yang protes terhadap
keadaan. Sebuah sajak telah ia bacakan. Tak henti disana. Ia masih terus
membacakan sajak-sajaknya.
……………………………..
Kita mahasiswa tidak buta…
Sekarang matahari semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas
puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita
juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang
mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
Akan menjadi alat pembebasan,
Ataukah alat penindasan?
Kita menuntut Jawaban.!!![2]
Mahasiswa
semakin ramai berkumpul di sekitar Raihan. Sebagian bersorak menyemangati,
sebagian cuek mendengarkan. Di kejauhan tampak petugas keamanan kampus menuju
Raihan. Dan beberapa dosen juga keluar untuk melihat apa yang terjadi. Persoalannya
tidak sepele. Karena tepat pada hari itu, TIM Assesor BAN PT sedang melakukan
kunjungan rutin di kampus ini. Tak kepalang kalang kabutnya pak Dekan.
Melihat itu
Raihan tidak berhenti, ia malah melanjutkan pembacaan sajaknya;
……………………………
Kita dulu pernah menyetop lalu
lintas,
membakari mobil-mobil,
melambaikan poster-poster,
dan berderap maju, berdemonstrasi.
Kita telah sama-sama merancang
strategi
di panti pijit dan restoran.
Dengan arloji emas, secara teliti
kita susun jadwal waktu.
Bergadang, berunding di larut kelam,
sambil mendekap hostess di club
malam.
Karena begitulah gaya pemuda harapan
bangsa…[3]
Belum
sempat Raihan menuntaskan aksinya, ia telah diseret oleh aparat keamanan.
Megaphone yang ia pegang hancur berantakan. Pecah kita ia berontak melawan
petugas keamanan. Mahasiswa ramai berseru menyuarakan penolakan dan dukungan.
Tapi Raihan tetap dibawa menuju kantor pak Dekan.
Berjam-jam
Raihan ditahan di ruang pertemuan. Layaknya tahanan LP Cipinang yang sedang
menunggu jadwal sidang. Raihan diam, raut mukanya tenang walau dadanya masih
bergemuruh penuh emosi, yang baru sedikit tersalurkan. Tak lama berselang,
Dekan Fakultas datang, ia disertai beberapa Dosen senior, dua di antara mereka
adalah orang penting di Gedung Rektorat.
“Saya
hanyalah mahasiswa biasa pak dekan, dan bapak-bapak yang terhormat. Saya hanya
mempraktekkan apa yang telah di ajarkan di bangku sekolah dan universitas ini.
Saya hanya ingin mengatakan kebenaran serta kejujuran yang sering bapak-bapak
sampaikan. Kalau bapak-bapak tidak berkenan, silakan cari tau siapa yang harus
disalahkan.” Kalimat ini terucap dari mulut Raihan ketika ia dihakimi oleh para
Dosen di hadapannya. Jawaban atas segala pertanyaan dan pernyataan serta
penghakiman yang dilontarkan oleh mereka, para petinggi kampus. Semua terdiam.
Raihan
salah, ia harus dihukum. Harus ada sanksi yang tegas buat Raihan. Para dosen
langsung bermusyawarah dan memutuskan sanksinya di tempat itu juga. Saat itu
juga.
Kasak kusuk
para petinggi kampus selesai. Keputusan akhir telah diambil. Sanksi harus dijatuhkan
kepada Raihan. Sebuah hukuman. Bukan skorsing sebulan atau dua bulan. Raihan
Harus dikeluarkan secara tidak hormat. Ia di DO alias Drof Out. Begitulah, dengan
tegas dan berwibawa pak Dekan menyampaikan sanksi dan hukuman pada Raihan. Ia
hanya bisa tersenyum. Kemudian mengucapkan salam sambil berlalu meninggalkan
Ruangan. Suasana diam mencekam.
Siang telah
berganti sore, matahari kian condong ke timur. Raihan dengan tenang menyusuri teras
gedung fakultas. Tatapan ratusan pasang mata mahasiswa mengantarnya keluar
gerbang kampus. Tatapan dengan seribu keheranan. Kenapa Raihan harus berbuat
demikian. Selangkah gerbang ia lewati. Ia menoleh kearah gedung megah lantai
tiga di hadapannya. “semoga kampus ini Berjaya, dan tidak sekedar menyediakan
ijazah”, setengah menggumam ia berdo’a. tak sengaja matanya mengarah ke ujung
tangga lantai dua, ia melihat Zahrah, Sahabatnya, ah… Sahabat,,,, memandangnya
dengan mata sayu. Raihan melambaikan tangan. Ucapan perpisahan. Senja telah
datang, mengiringi kepergian Raihan. Di atas, langit masih berwarna biru.
Kalibeber, 27 November 2012. 12.42.
Comments