Kerudung Merah
Ayam jantan
belum lagi berkokok, langit pun belum ada tanda-tanda menampakkan semburat
merahnya, apa lagi mentari. Ia masih betah bertahta pada singgsananya. Dan
lengkaplah itu tanda, bahwa pagi masih lama. Bahwa hari belum lagi dimulai.
Bahwa penghuni bumi masih betah bercengkrama dengan sisa gelap malam serta
dinginnya udara.
Tapi tidak bagi
Mak Jiah. Ia sedari tadi sudah sibuk dengan heningnya sendiri. Hening kesadaran
akan tugasnya sebagai makhluk. Hening yang membuatnya tentram. Akhir ibadahnya
malam ini ditutup dengan do’a panjang buat keluarganya. Ya. Keluarga kecilnya.
Ia sebagai nenek dan seorang cucunya yang ditinggal mati kedua orangtuanya.
Anak tunggal Mak Jiah.
“Mai.. Bangun
nak,” ia besuara perlahan membangunkan cucunya itu. Maida namanya. Masih kecil,
sebaya dengan anak kelas lima SD, 11
tahun, 10 tahun. Ah.. nenek tak begitu hafal berapa umurnya. Maida kecil,
cucunya, telah menjadi teman terakhirnya di dunia ini. Temannya menyusuri
jalan-jalan hening subuh hari.
“Mai…
bangunlah nak, bentar lagi dah mau subuh…”
Masih dengan perlahan ia membangunkan cucunya. Kali ini menyentuh pipi Maida
dengan lembut.
“Ia Mak,
suara Maida terdengar serak,” hampir tak terdengar. Matanya menyipit. Silau
oleh cahaya lampu yang wattnya tak seberapa. Ucek-ucek matanya ia selesaikan,
dan bangkit terhuyung menuju kamar mandi.
Bukan kamar mandi tepatnya. Tapi tempat meletekkan sebuah baskom besar dan satu ember yang muat lima
liter air, sebagai penutup, tempatnya disekat dengan karung bekas. Ya. Tempat
mandi bagi mereka. Sederhana.
Maida sudah
biasa mengikuti ritual neneknya bangun malam untuk ibadah. Latihan. Kata
neneknya satu ketika. biar kamu ndak
terkejut menerima pagi, serta menghadapi matahari. kebiasaan itu terus berjalan
walau terkadang ia masih malas. Susah.
“Mak, pagi
ini kita kemana?” Maida perlahan bertanya setelah do’a singkatnya. Do’a singkat
buat mereka berdua. Untuk Mak Jiah dan Maida. Cuma buat mereka berdua.
“kita
kejalan yang arah utara Maida, di sana banyak rumah orang kaya, dan mahasiswa
yang kaya. Jadi mudah-mudahan kita bisa dapatkan sampah yang bagus-bagus. Kalau
beruntung kita bisa dapatkan lebih dari itu.” Mak Jiah menjawab sambil
menyiapkan alat-alat kerja mereka.
Mereka
berangkat setelah sholat subuh berjamah. Tadi, sembari menunggu azan subuh,
mereka berdua mengisi perut dengan segelas teh hangat serta ditemani pisang
goreng. Mereka berjalan beriringan menuju utara kota. Tujuan mereka adalah
komplek dekat sebuah universitas ternama. Yang konon sebagian besar
mahasiswanya adalah orang kaya. Di pundak Mak Jiah terdapat sebuah karung
bekas. Tempat untunk menampung barang-barang rongsok yang akan mereka
kumpulkan.
Adzan Subuh
telah setengah jam berlalu. Di sebuah kost pinggir kota.
Ruang kamar
ukuran tiga kali empat, dengan berderet poster yang menghiasi dindingnya,
tampak besahaja dengan sinar lampu putih 18 watt. Samar lagu lawas dari Ebit G Ade
teredengar syahdu, sama syahdunya dengan hening sisa malam yang berawan. Suara
keciprat air bersahut dengan suara jangkrik yang kerap menghiasi sekitar kamar
itu. Suasana kamar kost seorang mahasiswa yang duduk di
semester yang tak pernah berakhir tampak sendu, lantunan Elegi Esok Pagi Ebit
menambah sendu ruang kamar itu.
Di atas kasur
tipis tanpa seprei berbaring Alan, sang penghuni kamar. Berbaring dengan kepala
mengahadap utara, mengarah ke jendela kamarnya. Berjejer sebelah baratnya,
seorang lagi masih dengan mata terpejam dengan tubuh berbalut sarung yang
difungsikan sebagai selimut. Udara subuh musim kemarau tampaknya memang dingin.
Atau selimut itu hanya sekadar
menutupi tubuhnya. Karena ia seorang perempuan. Berambut panjang, dengan wajah innocent, tapi lelah. Dhea. Nama
panjangnya tertulis Anandya pertiwi. Teman dekat Alan. Pacar.
Seorang Kekasih.
Semalam mereka
lelah bernyanyi hingga larut. Bernyanyi mesra lagu cinta. Lagu asmara. Asmara suatu
ketika seperti lagunya Ebit ataukah cinta tulus dari hati
anak manusia. Entahlah, wajah mereka terlihat bahagia walau tampak lelah.
“Mas... Bangun
dah subuuhh” Dhea menggerakkan tangan Alan. Masih dengan mata terpejam serta
mulut yang terbuka ditutupi tangan kanannya.. Menguap. Halus. Tubuh Alan bergerak sebentar lalu kembali meringkuk menutupi ujung kakinya
dengan sarung. Kembali lelap. Suasana sebentar senyap.
Gelap malam
mulai bersiap untuk meninggalkan peraduannya. Mentari pagi mulai menyelinap di sela-sela langit timur. Bersiap sedia menggantikan tugas malam. Semburat
merah mulai merekah. Tanda pagi akan segera tiba, sebuah tanda semesta. Dhea,
yang sejak tadi sudah tak lagi nyenyak dengan tidurnya merasa bahwa ia harus segera bangun.
Setelah
meminum segelas air putih yang ia ambil dari air galon di sudut kamar, Dhea
bangun kemudian menuju kamar mandi. Tidak kurang dari lima belas menit ia di
kamar mandi. Kembali ke kamar kemudian menatap wajahnya lamat-lamat pada cermin
yang tergantng di dinding kamar Alan. Cerah. Dengan mata yang sedikit sembab.
Kurang tidur barangkali. Lama ia terpaku menatap wajahnya, berfikir tetang hubungan yang telah jauh ia lakukan dengan Alan.
Jilbab merah
yang tersampir pada daun pintu lemari ia kenakan kemudian mengambil sebuah buku
sejarah. Ia duduk diam. Terpekur menatap huruf-huruf yang berjejer. Entah
benar-benar membaca atau hanya sekadar menghilangkan kegalauan yang ada di hatinya. Hening. Lantunan lagu Ebiet telah lama diam. Pagi terasa lama
beranjak meninggi. Menambah kegalauan yang
ada di
hati Dhea. Entah
karena apa.
***
Aktivitas pagi
itu belum terlalu ramai. Beberapa mahasiswa melewati jalan sempit itu. ada yang sendirian ada juga yang
berpasangan. Mereka lewat dengan masing-masing semangat pagi di hati mereka. Di
ujung gang ada sebuah warung
tempat segala kebutuhan perut bisa didapatkan. Mulai dari yang sederhana, hingga yang sangat
sederhana sekali. Warung pavorit mahasiswa. Harga terjangkau. Lengkap. Serta cukup akrab di lidah.
Warung itu
adalah tempat Angga nongkrong di pagi
hari, sebelum ia memulai ritual tidur paginya. Kebiasaannya begadang hingga
subuh sepertinya menjadi rutinitas. Pagi itu, secangkir kopi dan rokok yang tinggal setengah menemani kesendiriannya. Koran
pagi yang di tunggunya belum juga datang. Masih terlalu pagi. Acara gosip di televisi yang terpajang di pojok
warung masih sibuk dengan kabar-kabar selebriti dengan
segala sensasinya. Jengah Angga
melihat acaranya. Sambil menghadapi kopi dan gorengan Angga membolak balik
halaman koran kemarin. Melihat kabar Indonesia raya dari beritanya.
Tak berapa
lama, Koran hari ini ia terima. Ia langsung mebaca headline berita. Berita-berita hari ini masih seperti biasanya tak
ada yang istimewa. Kabar KPK dan korupsi, bencana kekeringan yang semakin
menjadi, kemiskinan yang tak pernah teratasi. Walau di antara kekacauan itu
masih ada terselip prestasi anak negeri yang menang di olimpiade. Baik olahraga
maupun keilmuan.
Mentari
mulai merangkak melintasi langit yang cerah. Mata Angga mulai menyipit karena
kantuk yang tertahan sedari tadi. Secangkir kopinya pun telah tandas. Lima ribu
rupiah ia bayar untuk sarapan paginya. Ia beranjak pergi kemudian, bergegas
menuju kost tercintanya. Menghilangkan segenap kantuk yang kian lama kian
memuncak.
Kost Angga
terlihat sepi. Ia langsuk masuk ke kamarnya. Kantuknya sudah tak tertahankan.
Bayangan kasur dan bantal menari-nari di pelupuk matanya. Di kamar ia langsung
rebah, belum sempat menutup matanya, HPnya berdering, satu pesan masuk. “ Ngga
ke kost ya, ne ada yang harus kita bicarakan soal rencana kemaren. Penting.
Sekarang.” Pesan dari Yudha. Teman sekampungnya. Huhhhh… Angga kesal, walau
begitu ia tetap berangkat. Dia kembali mengenakan jaketnya. Kemudian membasuh
muka, berusaha menghilangkan kantuk yang masih menyergapnya.
Motor
supranya melaju kencang. Membelah jalanan pagi kota. Menuju utara kota.
Sementara itu,
di pinggiran kota, di mana letak kost Alan berada. Suasana kamar kostnya masih
hening. Alan duduk menjejeri Dhea yang sedari tadi diam. Tak sepatah
mengeluarkan kata. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Di luar, tetangga
kost Alan mulai sibuk dengan berbagai aktivitas mereka. Di gerbang kost,
serombongan bapak-bapak berjalan setengah terburu menuju kost mahasiswa
tersebut. Mereka adalah aparat RT,
disertai oleh induk semang kost. Mereka mengarah ke kost Alan. Sontak para
penghuni kost terhenti dari aktivitasnya. Penasaran melihat apa yang akan
terjadi.
Pintu kamar
Alan digedor. Alan tersentak, Dhea ikut kaget. Selang beberapa detik, kecemasan
menghiasi wajah mereka berdua. Alan membuka pintu. “Maaf mas, kita minta mas
ikut dengan kami ke kantor RT. Mas tahu kan peraturan kost di sini?” Ketua RT
yang berbicara. Wajah Alan berubah pucat. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Alan dan
Dhea berjalan menunduk, berdiri di depan rombongan aparat RT. Kerudung merah Dhea
terlihat terpasang seadanya. Tak sempat ia merapikannya di depan kaca. Kusut
dan berantakan. Penghuni kos lainnya menatap mereka dengan pandangan tak
menentu. Antara kasihan dan empati. Beberapa penduduk RT setempat juga melihat
kejadian pagi itu. Setelah lama kejadian serupa tak terjadi. Kasus mahasiswa
yang menginapkan mahasiswi di kamar kostnya.
Di
kantor RT, Alan dan Dhea diintrogasi. Mata Dhea mendung menahan air mata yang
hendak tumpah tapi tertahan. Alan juga terlihat cemas, terbata menjawab
pertanyaan ketua RT. Kejadian ini menjadi pukulan bagi mereka berdua.
Kekhawatiran yang sejak semula telah mereka duga. Entahlah. Alan tak sempat
befikir banyak lagi tentang hubungannya dengan Dhea. Begitupun dengan Dhea.
Kata-kata ketua RT tak begitu lagi mereka perhatikan.
***
Matahari
mulai meninggi, teriknya mulai menyengat. Tak lagi hangat dengan vitamin D nya.
Angga masih melaju dengan kecepatan tinggi. Sebentar lagi ia sampai di tujuan.
Matanya terasa pedas. Memerah. Perpaduan kantuk dengan tempuran debu jalanan
yang mulai bertebangan. Lampu merah perempatan kampus Bulaksumur tampak padat. Angga
merengsek maju mendekati lampu merah. Ia sedikit terburu. Lampu merah berubah
menjadi hijau.
Angga
langsung tancap gas. Menyalip beberapa kendaraan di depan dan sampingnya.
Kecepatannya tak berhitung dengan padat kendaraan yang mulai merayap. Ia tak
melihat bahwa di garis tengah jalan ada seorang nenek dan cucunya yang berhenti
untuk menyebrang. Mak Jiah dan cucunya Maida. Baru hendak menyebrang melintasi
jalanan. Karung bawaan mereka setengah berisi. Barang rongsokan. Angga tak
sempat mengelak. Seandainya mengelakpun ia akan menabrak mobil di sampingnya.
Dari arah berlawanan kendaraan berseliweran. Angga terhempas. Nenek yang ditabrak
terpental lurus dua meter ke depan. Roboh. Maida yang berada di sampinya ikut
terpental. Isi karungnya berhamburan.
Lalu
lintas mendadak macet. Kendaraan terhenti. Beberapa sepeda motor ikut limbung
kemudian jatuh. Maida masih bisa bangun, lengannya lecet. Ia menghampiri
neneknya yang sudah tak bergerak. Beberapa orang dari rumah makan Padang di
pinggir jalan ikut membantu. Mengangkat mereka berdua ke pinggir jalan. Dari
kepala Mak Jiah yang tertutup kerudung, mengucur darah. Mungkin kepalanya
pecah. Bisa juga keluar dari telinganya. Hidungnya juga mengeluarkan darah. Maida
langsung melepas jilbab merahnya, sambil menangis ia mengusap darah di muka
neneknya.
Tubuh
Angga masih tergeletak di pinggir jalan. Di depan warung makan padang. Ia
pingsan. Sayup suara penyiar berita sekilas info terdengar dari televisi warung
makan padang. Seorang tersangka korupsi di gelandang ke gedung KPK. Nini
Anjarwati namanya. Istri seorang pejabat pusat. Di balik kerudung merah serta
kacamata hitam yang menutup wajahnya, ia turun dari mobil mewah dengan menebar
senyum kepada wartawan.
Sirene
ambulan terdengar meraung. Bertengkar dengan suara bising jalanan. Terburu
mengangkat korban kecelakaan. Tubuh Mak Jiah tertutup kain putih. Hidungnya
terpasang selang infus. Sedang Maida masih terisak, dengan kerudung merah
bercampur darah di pangkuannya. Pusing di kepala Angga belum hilang, efek dari
pingsannya. Ia belum sepenuhnya sadar. Kepalanya tersandar di dinding ambulan.
Matanya menatap sendu kepada Maida. Entah apa yang ada di benaknya. Di luar
udara panas sekali…
Comments