Cerita-cerita Kakak
Sinar mentari pagi ini datang tanpa permisi. Bunyi alarm tak mampu
mencegahnya menyentuh tubuhku di balik selimut dan berpesta membelai kulit
wajahku setelah melewati celah jendela kamar. Mataku silau olehnya. Mengajakku keluar dari alam tidur dan dunia mimpi semalaman. Malam yang
panjang. Namun kantuk belum sempurna pergi, ia masih menguasai syaraf-syaraf tubuh. Sepeti seorang raja, rasa kantuk itu, dengan telunjuknya
memerintahkan syaraf tubuhku untuk tetap diam pada posisi tidur. Kaki yang masih terasa lemas, kepala yang masih nyaman bertahta di atas
bantal, serta kelopak mata yang tetap ingin
menyelimuti bola mataku yang tak seberapa lebarnya. Manja
untuk tetap terpejam. Ingin mengingat kembali setiap kejadian dalam tidurku
tadi malam. Aku bermimpi. Mimpi yang menyisakan pertanyaan panjang. Aku betanya dalam hati kenapa orang mengalami mimpi.
Dan apakah mimpi itu sebenarnya. Adakah ia memang sebuah dunia.
Pagiku hari ini tak seperti pagi-pagi sebelumnya. Hatiku masih terasa jengkel dengan ulah kakakku
yang tak mengucapkan sepatah kata pun pada hari ulang tahunku. Mungkin begitu sibuknya ia pada bulan ini hingga untuk sekedar menuliskan
pesan singkat pun ia tak sempat. Sesibuk apakah ia, aku tak pernah yakin dengan
kesibukannya bahkan tak mengerti. Karena kakakku hanyalah seorang mahasiswa
yang hingga hari ini belum diwisuda. Atau jangan jangan ia telah tenggelam di
dasar palung terdalam mimpi-mimpinya. Mimpi yang selalu menyertai setiap
langkah kakinya. Ia bermimpi untuk menjadi seorang yang bisa mewujudkan
kedamaian di dunia. Bagiku itu adalah mimpi. Tetapi kakak menyebutnya
cita-cita.
Ini bulan Mei. Bulan kelahiranku. Karena bulan ini jugalah aku
sering dipangggil
kakak dengan
panggilan; Putri Mei. Entah apa maksudnya. Dia kerap bercerita tentang betapa
pentingnya bulan ini untuk selalu diingat. Karena begitu banyak peristiwa-peristiwa
yang penuh gairah terjadi di bulan ini. Dan baginya, mungkin juga
hari lahirku. Ia berpendapat karena kelahirkanku pada tanggal dan bulan ini
bukanlah sebuah kebetulan. Menurutnya ini adalah sebuah tanda. Sebuah simbol
akan masa depan yang akan kuhadapi. Tugas yang harus aku emban. Itu semua karena
karena aku lahir di bulan Mei. Tepat pada hari di mana negara kami memperingati sebuah peristiwa yang
terjadi puluhan tahun silam. Sebuah titik kesadaran bersama, yang datang dari
berbagai penjuru bumi pertiwi. Hari yang di tahun-tahun kemudian, para
murid-murid di sekolah mengadakan upaca bendera setiap tahunnya sebagai sebuah
peringatan. Hari itu bertanggal 20 Mei. Dan ia bukanlah satu-satunya hari yang
mempunyai nama di negeriku.
Hari itu bernama Hari Kebangkitan Nasional. Suatu
hari di mana kaum terpelajar dari pemuda di seluruh nusantara berikrar untuk bersatu demi merebut kemerdekaan dari
penjajah. Sebuah persatuan yang dipelopori oleh Bung Tomo, seorang pahlawan dari kota surabaya.
Menyatukan berbagai pemuda dari berbagai macam daerah di nusantara. Jong Java,
Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Islamited Bond dan masih banyak lagi. Itu cerita
kakakku ketika ia memberiku sebuah novel “Di Tepi Kali Bekasi” karya seorang sastrawan terkenal. Aku tak pernah tau dan tak pernah
tertarik dengan tema cerita kakakku. Terlalu berat. Negara kok di pikirin. Bisik hatiku kala itu.
Ulang tahunku ke yang ke 13.
Pernah juga kakak bercerita tentang bagaimana setahun
setelah kelahiranku, -atau tujuh puluh tahun setelah ikrar para pemuda
nusantara- para pumuda juga bersatu untuk menurunkan seorang raja, seorang
jenderal dengan hiasan sebuah senyuman, dan dengan sebatang lisong terjepit di
antara telunjuk serta jari tengahnya. Tetapi semua itu
harus ada gantinya. Kerusuhan banyak
terjadi di penjuru negeriku.
Banyak terjadi penjarahan di kota-kota. Korban banyak berjatuhan dari kaum yang dianggap minoritas. Kaum yang di anggap sebagai orang lain atawa yang lain. Kata kakak, wajah mereka mirip dengan wajahku. Mata
yang tak seperti kebanyakan penduduk lainnya. Kulitnya
pun mirip. Kuning cerah yang membikin wajah mereka
terlihat bersih dan cantik. Padahal kata kakak, mereka
dan perjalanan negeri ini tak dapat dipisahakan, bahkan sejak ribuan tahun
silam.
Sehabis kakak cerita aku langsung mencari cermin dan melihat
wajahku. Seandainya aku sudah berumur seperti sekarang, mungkin aku juga akan
menjadi kebrutalan mereka yang rasis. Aku membatin, cerita kakak yang ini mulai membuatku berpikir tentang sekelilingku.
Merenungkan cerita kakak aku merasa heran, bulan
di mana persatuan dicanangkan
ternyata terjadi kerusahan rasial yang tak berperikemanusian. Kerusuhan yang
dapat membuat
negara ini terpecah belah. Larut dalam konflik tak berkesudahan. Aku bergidik.
Walau aku belum sepenuhnya mengerti tentang peristiwa-peristiwa bulan mei yang diceritakan
kakak. Aku juga pernah mendengar cerita ini dari guru di sekolahku.
Kakak memang suka bercerita. Tapi di luar rumah ia termasuk
pendiam. Ibukku yang bilang demikian. Kalau lagi libur kuliah kakak terkadang
pulang. Salah
satu kebiasaanku adalah minta di pijit tangan, kaki dan kepala. Menurutku
pijitan kakak enak, bisa membuat badan segar. Tak jarang aku langsung tertidur
kalau sudah di pijit sama kakak. Nah... hal yang paling kakak sukai adalah
bercerita dan menasehati ketika ia memijit. Hal yang
aku sukai dan hal yang tak aku
senangi. Mendengar ia bercerita, seakan kakak adalah orang yang paling
bertanggung jawab terhadap keadaan negara, kesejahteraannya, keamanannya,
sosial masyarakatnya, juga moralnya. Aku tak habis pikir, mungkin karena aku masia belia dan masih
labil. Pernah aku nyeletuk menyela cerita, “ kenapa kakak tak jadi presiden
aja”, atau, “ kenapa kakak tak selesaikan dulu kuliahnya”. Kakak hanya
tersenyum kemudian berkata. “itu soal lain lagi Mei”... aku manyun mendengar
responnya.
“Mei,” kata kakak suatu senja,
“bulan mei
adalah bulan penuh gairah, bulan perubahan,pada bulan ini juga lahir seorang tokoh besar pendidikan. Kemudian
untuk mengenangnya hari itu diberi nama yang kemudian kita peringati dengan hari pendidikan.
Pendidikan yang diharapkan menjadi alat bagi kemajuan peradaban bangsa ini. Bulan itu juga lambang bersatu dan bangkitnya
kaum muda
nusantara, dalam bulan mei juga rezim otoriter tumbang, dan satu kata tentang kebebasan di mulai.” Kakak
bilang namanya reformasi dan demokrasi. Dengung demokrasi terjadi di mana-mana.
Walau dibayar dengan kerusuhan serta penghilangan
orang secara paksa. Kakak menceritakan kepadaku kala itu ribuan mahasiswa
berseragam jas kampus ramai menduduki gedung rakyat, dewan perwakilan rakyat.
Ia juga mengatakan bahwa ada seorang penyair yang hingga kini masih hilang. Itu
terjadi beberapa bulan sebelum huru hara besar terjadi. Itu adalah ultahku yang
ke 17. Ulang tahun bagi sebagian orang adalah ulang tahun yang menentukan. Ceritanya begitu berkesan
dalam hidupku, dan untuk anak gadis seusiaku.
Kini dua tahun sudah kakak tak pernah pulang,
kabar pun semakin jarang datang, aku rindu dengan cerita ceritanya tentang
negara dan kemanusiaan. Rindu akan kutipan-kutipan perkatan orang-orang besar
dunia. Yang paling aku ingat adalah kakak sangat suka dengan Ghandi seorang
pembaharu di India yang mengobarkan sebuah semangat revolusi damai tanpa
kekerasan. Ia juga sangat memuji sikap Gandhi tentang nasionalisme, pentingnya persatuan, dan persaudaraan.
Kakak juga mengidolakan Bung Karno, katanya ia adalah seorang pemimpin sejati
dan seorang laki laki sejati. Aku pernah dikasih satu buku biografi Bung Karno,
kala itu ulang tahunku yang ke 18.
Kakak sangat benci dengan musik-musik yang menurutnya tidak berkepribadian. Ia sering membahasakannya dengan kata-kata cengeng dan lembek, dan aku tak mengerti. Karena musik jugalah kami sempat
bertengkar, ia mematikan begitu saja musik dari telpon genggamku. Kala itu,
grup vokal musik luar negeri sedang trend dan menjadi kesukaanku. Kini aku tak lagi suka dengan
musik- musik tersebut. Belakangan aku tahu, bahwa di zaman Bung Karno pernah ada larangan tentang musik ngak-ngik-
ngok. Karena
kakak jugalah kini aku mulai suka membaca, aku rutin membaca koran yang selalu
disediakan oleh warung makan langgananku. Aku sudah terbiasa mengikuti
perkembangan negara serta berita-berita tentang kemanusiaan. Aku kini duduk di
bangku kuliah. Jurusan Psikologi di universitas negeri di kota provinsiku.
Bulan Mei tahun ini dihiasi oleh hujan yang sering
turun di sepanjang sore. Ia seakan menghantarkan penduduk kotaku menuju malam
yang kian dingin. Tak seperti bulan-bulan mei sebelumnya. Aku tak mengerti ini
musim hujan atau musim kemarau, karena di musim kemarau kerap turun hujan bahkan malah
banjir. Pun begitu ketika musim hujan, matahari seakan mengeluarkan seluruh
sinarnya hingga bumi terasa sangat panas. Menyengat. Kalau sudah begini aku
teringat kembali dengan kakak, karena ia begitu panjang bercerita tentang perubahan iklim yang
akhir-akhir ini sering terjadi.
Beberapa hari yang lalu aku kembali dari desaku. Ada kenangan yang
menyeruak dalam ingatan tentang kebersamaanku dengan kakak. Waktu itu kami lagi duduk istirahat makan siang di
bawah dangau
di tengah kebun kopi. Kakak bercerita
tentang begitu bersyukurnya ia dilahirkan dan melalui masa kecilnya di pedesaan
dengan suasana alam yang begitu bersahabat. Buah-buahan yang melimpah,
gemericik suara air sungai yang melewati bebatuan yang besar, mencari ikan di
sungai dan danau dan hal-hal lain yang membuatnya begitu akrab dengan alam. Pada bagian berikutnya
kakak akan mulai memberikan nasehat-nasehat panjang yang kadang membosankan dan
berkepanjangan serta berulang-ulang. “Makanya Mei, kamu harus cinta sama alam
sekitar. Menjaga agar hutan kita tetap lestari, menjaga sungai agar tetap
jernih, serta menjaga keberlangsungan hidup hewan hewan yang hidup di
dalamnya.” Katanya di akhir cerita. Aku pura-pura mendengar, agar kakak tidak
rewel lagi.
Pernah aku bertanya kepada kakak tentang cita-citanya. Ia menjawab
berbelit-belit. Dan setelah aku merajuk kecil serta sedikit memaksa, barulah ia
menjawab, “Kakak ingin jadi petani. Karena dengan bertani kakak sudak ikut
serta menjaga tanah, tumbuhan dan air.” Lagi-lagi aku ternganga dengan
jawabannya. Cita-cita yang kini tak lagi diminati oleh banyak anak muda.
Sekarang aku hanya bisa mengenang bayang-bayang kakak. Cerita-ceritanya
yang hadir kemenjelang tidur malamku. Kakak
telah pergi. Aku tidak tahu di alam mana kakak berada. Apakah
ia masih bersama denga keasrian hutan serta alam yang lestari atau kini ia
mulai mencintai dunia perkotaan di mana ia belajar. Aku tidak ingin membayangkan kalau kakak sudah akrab dengan
hiburan hiburan malam, café-café, atau diskotik. Aku juga tidak sanggup seandainya kakak sudah mulai
mengahabiskan waktu senggangnya dengan berjalan-berjalan di mall-mall besar di
kota. atau mungkin ia sekarang sibuk pacaran. Ah…
mungkinkah ini terjadi.
Mengingat itu semua mataku berkaca-kaca. Ulang
tahunku tahun ini terasa sepi tanpa kakak, atau ucapan darinya. Aku merasa Mei kali
ini kelabu, bahkan hitam bagi hidupku. Entahlah. Aku merasa rindu pada sosok
kakak. Untuk menghilangkan kerisauanku, aku beranjak dari tempat tidur. Mencoba untuk menyegarkan
tubuhku dengan berapa guyuran air. Aku ingat, terakhir aku minta dibelikan
sebuah boneka pada kakak, sebagai kado ulang tahunku.
Di warung langgananku pagi ini mulai ramai. Suara celoteh para
mahasiswa dan mahasiswi bercampur jadi satu, apakah mereka berdebat atau
ngerumpi aku begitu memperhatikan. Aku masih tenggelam dalam beragam berita
yang disajikan dalam koran yang ada di tanganku. Aku biasa melihat kabar dunia dan negara di warung ini. Beragam
kilas peristiwa
aku baca. Berita tentang hingar bingar elit politik, korupsi serta bencana alam masih dominan dalam berita, selain tentang
beberapa selebritas yang mencari sensasi dengan berbagai cara yang mereka lakukan. Semau
aku baca sekilas. Nampak pada sebuah berita, sebuah ulasan tentang ancaman disintegrasi bangsaku. Negara
kepulauan yang masih terhitung belia. Sebuah negara kesatuan yang sekian lama dipersiapkan
serta diperjuangkan oleh para bapak bangsa.
Kerusuhan antar etnis kembali menyeruak. Konflik agama belum juga
surut. Bhinneka
Tunggal Ika seakan hanya hiasan indah di kaki burung garuda. Lambang
keperkasaan negara. Aku kemudian bertanya. Apakah garuda pancasila yang perkasa itu sudah lelah dan tak lagi erat mencengkram Bhinneka
Tunggal Ika?
Pertanyaanku terbang mencari jawaban. Sedang langit pagi ini berhias mendung
yang hitam.
Yogya-wonosobo, 29 mei – 01 Juni
2013.
Comments