Cerita Aliyah



Semenjak ia meninggalkan ruangan kelas kami, pada hari yang tak bermentari. Aku tak pernah lagi mendengar kabar apa-apa dari Aliyah. Ia seakan pergi ke neraka. Tak  mau kasih kabar apapun juga. Aliyah telah lama hilang. Setidaknya menghilang dari sisiku. Pergi dari tatapan mataku. Tak tahu alasan apa yang membuatnya pergi. Kepergiannya menyisakan tanya yang tak kunjung berjawab. Aliyah. Di mana kini dia.

Aliyah. Nama singkat tanpa nama depan. Tak ada embel-embel nama kedua, nama orang tua, atau nama sukunya. Hanya Aliyah. Tak ada Siti di depannya seperti kebayankan orang di kampungku. Hanya Aliyah. Aliyah thok.
Tinggi badannya proposional. Semampai orang sekarang bilang. Tubuhnya tak gemuk benar, dan ia tak bisa di sebut kurus. Rambut Aliyah panjang, selalu berayun saat ia berlari-lari kecil. Ketika ia menaiki tangga, terburu-buru karena telat kuliah. Terkadang ia berlari menjejeri langkahku saat pulang kuliah. Tapi, Ia tak pernah berlari mengejar biskota tentunya.
Matanya tak bulat dan tak juga dibilang sipit. Bola matanya hitam bening, menunjukkan kecerdasan dirinya. Mata beningnya juga terlihat indah kala ia bercerita tentang dirinya dan sederet permasalahannya. Kadang terlihat sendu, sesekali pandangannya kosong, tapi lebih sering pandangan merajuknya. Ia terlihat begitu kalah, dibalik keras kepalanya. Ia terlihat manja dibalik ketegasannya. Ia terlihat lembut mesra dibalik kerasnya kehidupannya. Mata Aliyah, menceritakan banyak hal yang tak terduga. Kompleksitas persona anak manusia.
Aliyah pernah bercerita kepadaku suatu ketika. Ia sangat suka dengan buah durian. Di kampungnya tak ada tanaman durian. Aku jadi ingat rumah. Ketika musim durian tiba, kami sering bermalam di kebun. Menunggu durian jatuh diterpa angin malam. Kadang kami berebutan dengan musang. Tak jarang macan juga menjadi saingan kami. Sehabis subuh biasanya ambung kami sudah penuh. Perut kami pun sudah kenyang sama durian. Bila bersendawa… hehehe, tak usah ditanya. Baunya gak kira-kira.
Aku ingin sekali membawakan Aliyah durian. Tapi kampungku jauh. Aku juga tak mungkin mengajaknya kerumah. Bisa panjang urusannya. Darma, kakak tertuaku pernah membawa seorang perempuan dari tempat kuliahnya yang jauh. Akibatnya, ia digosipkan macam-macam oleh penduduk desa. Menurut adat kampung kami, kak Darma harus menikahi perempuan itu. mereka akirnya menikah. Aku tidak mau seperti itu, aku belum siap menikah.
Sehabis kuliah, aku dan Aliyah biasanya makan di kantin, atau warung di belakang fakultas. Terkadang kami juga ngobrol di kamar kostku. Tidak hanya ngobrol. Kadang kami istirahat. Aku tertidur. Aliyah juga tertidur. Pernah suatu hari kami bolos kuliah. Perkaranya, kami sama-sama tertidur.
Aliyah sangat suka jalan-jalan. Aku pun demikian. Kami sering jalan kedaerah perbukitan. Cuma berdua. Di perjalanan kami sering bercanda. Menertawakan hal-hal sepele yang melintas di hadapan kami. Misalnya, ketika melihat sepasang muda mudi yang lagi boncengan motor. Hanya karena gaya tangan ceweknya memeluk erat dada cowoknya. Kami bisa tertawa ngakak. Hingga perut kami sakit. Atau ketika kami melihat bapak-bapak tua yang mengendarai motor sangat pelan, dan membonceng istrinya yang juga sudah tua. Kami juga pernah memakan mangga muda dengan cabe rawit di puncak bukit. Perut kami juga sakit. Hingga kami ngacir mencari tempat buang hajat. Kalu buang hajat di hutan kita harus permisi dulu. Kalau nggak kita bisa celaka. Bisa juga kemasukan ruh penjaga hutannya. Begitu kata tetua desa di pinggir hutan.
Aliyah pernah mengajakku bermalam di sebuah hutan jati. Buat liburan akhir pekan katanya. Kami membawa peralatan kemah. Malamnya kami tak tidur. Kami juga tak pernah takut. Mati atau kematian, bagi kami hal yang biasa. Bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. Tak perlu dijauhi. Dan tak usah diminta. Dekat api unggun, kami ngobrol ngalur ngidul. Aliyah bercerita banyak tentang masa kecilnya. Sebagai anak terakhir atau bungsu, Aliyah agak dimanja oleh orang tuanya. Maka tak heran tabi’atnya agak keras kepala. Dengar ceritanya. Aku jadi ingat adikku yang paling kecil.
Satu hal baru aku ketahui tentang Aliyah adalah tentang kesukaannya untuk menyendiri. Ia betah duduk sendiri berjam-jam tanpa melakukan apa-apa. Ia hanya duduk dan diam. Sering juga ia berlama-lama menatap malam. Berbincang dengan suara-suara jangkrik. Mendengarkan lenguhan burung hantu. Atau hanya sekedar menyerap dinginnya malam. Aliyah bertanya kepadaku. Kenapa ia suka sendirian.
Untuk menjelaskan hal ini aku tak bisa menguraikannya dengan sepatah dua kata. Untuk menghindari penjelasan panjang. Aku jawab dengan sederhana dan memaksa. “Ya, mungkin itu sudah dari sananya”. Ia pun diam dengan kening yang masih berkerut. Malam itu juga, ia terus saja bercerita, ia mengenang kisah masa lalunya waktu di SD. Ada seorang kakak kelasnya yang suka padanya. Dan ia sering digoda. Pipi Aliyah mengembung. Tanda ia kesal mengingat kejadian silam itu.
Semakin malam, cerita Aliyah semakin sendu, lebih tepatnya haru. Ia mulai bercerita tentang bapaknya yang kerap memukul ibunya. Atau melihat ayahnya yang kerjanya cuma telponan dan keluyuran gak karuan. Muka Aliyah datar tanpa ekspresi ketika ia cerita. Seakan semua hal itu sudah biasa. Dan bukan sebuah beban yang harus serius difikirkan. Aku kembali heran. Begitu juga ketika ia cerita tentang ibunya. Ia heran, mungkin sedikit kesal, kala ibunya hanya diam saja melihat kelakuan bapaknya. Ia juga tak pernah melihat ibunya menangis. Itu juga yang membuat ia tampak kukuh di hadapanku.
Mendengar cerita Aliyah, aku teringat lembaga-lembaga yang memperhatikan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Fikiranku juga sampai kepada sekelompok orang yang sering berteriak tentang peminisme serta jender. Aku tak terlalu paham dengan istilah itu. Katanya, mereka ingin kesetaraan. Aku tambah bingung. Kesetaraan itu apa dan bagaimana. Nah…
Dini hari kami kelelahan. Kami masuk ke dalam tenda yang sudah kami dirikan. Kami tak langsung tidur. Masih dengan suara samar, bercerita lagi. Kali ini tentang hati dan perasaan. Ia bertanya kepadaku. Kenapa sampai sekarang tidak punya pacar. Aku tergagap. Kaget. Untung gelap. Jadi ia tak mengetahui perubahan raut mukaku. Aku diam sejenak. “cukuplah bersama Aliyah, walau bukan pacar tapi aku sudah cukup senang”. Jawabku diplomatis. Sedang Aliyah hanya menjawab singkat. “hahaha… syukurlah deh kalo begitu”. Kemudian kami terlelap.
Aku tak mengira bahwa ajakan Aliyah untuk kemah adalah acara perpisahan darinya. Setelah acara itu, kami tak pernah lagi berbincang lama. Bila bertemu hanya sapa yang terucap, serta sedikit Tanya tentang kabar. Setelah itu, kami akan kembali pada aktivitas kami. Aku menjadi serba salah, dan merasa kehilangan karena Aliyah tak pernah lagi besamaku. Perlahan seiring berganti hari, aku tak pernah jumpa Aliyah lagi. Terakhir, aku melihatnya ketika ia kelur dari ruangan kelas.  Aliyah-ku telah hilang.
waktu tak pernah menungguku. Ia terus saja berlari meninggalkan yang diam dan tak bergerak. Aku tak pernah kuasa menaklukkan waktuku. Hingga kini aku masih duduk di pojok kamarku. Menatap tembok-tembok yang melingkari kamar. Aku masih mengenang tentang Aliyah yang telah pergi. Aku masih berharap Aliyah akan kembali. Aku masih ingin mengulangi kebersamaan kami bagai dulu lagi. Kalau masih boleh berharap lebih, aku ingin menghabiskan sisa umurku bersama Aliyah. Ah… Aliyah…
Kalibeber, 27 November 2012.05.45

Comments

Popular posts from this blog

Keputusan #2

Senja Cinta Awan*

Pendaran Cahaya Yaya*