Senja Cinta Awan*
Oleh: Guntur Akbar Awan duduk tercenung dengan mata menatap mega di awal senja. Mega berarak di langit berwarna merah. Semburat khas senja cerah. Tanda bahwa mentari hendak menyerahkan singgasananya pada rembulan raja malam. Awan duduk di teras depan kamarnya. Kamar kost berjejer dengan masing-masing terasnya. Sebuah sekat dari tumpukan bata yang disemen rapi menjadi jarak pemisah bagi setiap penghuninya. Kamar kost Awan menghadap ke barat. Sore hari adalah waktu mentari bersinar cerah memasuki setiap celah kamarnya. Di terasnya Awan duduk di atas kursi sederhana. Kursi kayu. Di sanalah ia tercenung, dengan tatapan kosong menatap mega senja. Semburat cerah menyala. Tapi tidak dengan hati Awan. Ia masih tercenung. Termenung. Melamun.