Posts

Showing posts from 2012

Senja Cinta Awan*

Oleh: Guntur Akbar Awan duduk tercenung dengan mata menatap mega di awal senja. Mega berarak di langit berwarna merah. Semburat khas senja cerah. Tanda bahwa mentari hendak menyerahkan singgasananya pada rembulan raja malam. Awan duduk di teras depan kamarnya. Kamar kost berjejer dengan masing-masing terasnya. Sebuah sekat dari tumpukan bata yang disemen rapi menjadi jarak pemisah bagi setiap penghuninya. Kamar kost Awan menghadap ke barat. Sore hari adalah waktu mentari bersinar cerah memasuki setiap celah kamarnya. Di terasnya Awan duduk di atas kursi sederhana. Kursi kayu. Di sanalah ia tercenung, dengan tatapan kosong menatap mega senja. Semburat cerah menyala. Tapi tidak dengan hati Awan. Ia masih tercenung. Termenung. Melamun.

Rindu ( pada) Ibu

Image
Bu, musim kemarau semakin panjang. Tumbuhan menjadi gersang. Tanah makin berdebu. Air sudah lama menjadi barang yang langka. Tampaknya kemarau ini akan lebih panjang. Sepanjang jalan umurku, bersama kemarau yang menjelma musim abadi dalam hati. Keteduhan serta kesejukan telah lama pergi, semenjak aku pergi. Keteduhan yang berasal dari wajahmu, kelembutan serta kasih sayang dari pancaran mata Ibu. Kini, aku merindui semuanya. Sedang Ibu masih jauh disana.

Wonosobo dalam Kenangan

Oleh: Pauzan. S “ Ada yang berubah dari wonosobo, sumuk!!!”. Begitulah bunyi status terbaru temanku di Facebook . Ahmad Khoirul Umam namanya. Aku biasa memanggilnya Umam. “Aja mulih ndise’ pak, aku arep mengana mengko sore” , komentarku pada statusnya. Dengan bahasa Jawa ala kadarnya. Aku memberitahukan tentang keberangkatanku.

Di Ujung Karpet Merah Dia Duduk dan Termangu.

Oleh: Paoezan'S Ujung karpet merah, tempat duduk baginya, termangu melihata dunia. Dunia dalam sebuah kotak. Dunia maya orang menyebutnya. Ujung karpet merah pulalah yang menjadi saksi kantuk matanya setelah mentari beranjak tinggi, mengusir malam panjang yang ia lewati. Malam-malam panjang, menatap kabar berita tentang dunia dengan segala hiruk pikuknya. Atau hanya sekadar bersapa dengan kawan lama yang bertahun-tahun tak bersua. Sekadar sapa atau coba menanam cinta.

Tentang Malam

Oleh: PaoezanS Kau yang bersajak merdu Tentang indahnya malam dan rembulan Mencari makna dibalik sajak indahmu tentangmumu, malam dan rembulan Kau cumbui ia, kau dekap, kau setubuhi Hingga puas. Terkapar. Dengan mata terpejam. Letih!

Cerita Malam

Oleh: Pauzan. S Tahukah kau, ketika jemariku terus saja menari di atas tuts keyboard komputer lawasku, sekan tak mau henti,  tak mau kompromi dengan pantatku yang terbenam pada lantai dingin kamarku. tahuka kau? ketika kakiku mengeras kesemutan pada duduk silaku yang kaku. tahukah kau? Malam ini langit berwarna, bukan hitam, tidak juga putih. Angin malam seakan hilang dari bumi ini, tak berhembus walau sepoi ringan melenakan. Ya, udara seakan hampa walau ia dingin menggigilakan tubuh hangatku. Tentu kau tau kalau hangat tubuhku. Bukankah waktu itu kita pernah berbagi kehangatan. Aku akan selalu rindu suasana itu. Tapi malam hari ini begitu dingin.Tubuhku seperti kaku, kelu, walau jemari lincah saja menari.

Belantara Raya

oleh: Pauzan S.  Aku diantara mereka seperti sebuah keberadaan nyata ditengah belantara hidup, mencari satu relitas yang menjadi tujuan individu yang mengenal tahu asalnya. Aku seperti sudah berada di depan gerbang istana tujuan para penghuni belantara hutan yang kejam. Sedangkan mereka masih kasak kusuk mencari jalan menuju istana itu. Sibuk mencari setapak yang lurus, konsisten dengan keyakinan, menguak tanda-tanda serta petunjuk-petunjuk rahasia menuju istana, yang kini aku berada di hadapannya.

Dia Gadis Berkerudung Merah

Oleh: yang sekarang bernama Pauzan S. Gadis berkerudung merah yang kadang menjelma di alam mimpi. Kadang datang di pagi hari atau hadir di sela tawa dan canda mereka. Gadis berkerudung merah yang dengan kehadirannya menambah satu warna baru dalam hidup mereka yang selama ini hanya punya dua warna yakni hijau dan hitam, gadis berkerudung merah juga menjadi penambah hangat kopi dan djisamsu dipagi hari. Gadis berkerudung merah juga menambah cerita tentang indahnya Nusantara. Nusantara, nama bagi negeri mereka yang sudah lama hilang ditelan oleh angkuhnya sang waktu, sebuah nama yang mengingatkan kita akan kejayaan satu peradaban, keagungan satu nilai kehidupan, kekayaan warisan alam, serta semangat ksatria yang tiada terkira. Ya, dialah Nusantara yang tidak kalah indahnya dengan gadis berkerudung merah, menjadi perbincangan tiada henti untuk satu kesadaran tentang jati diri, hadir dalam bincang pagi untuk memupuk rasa percaya diri, mengukuhkan keberadaan jiwa-jiwa satria sejati, ...

Aku, Kopi Dan Selinting Tembakau

Ini adalah satu babak dari episode panjang dari sebuah cerita yang pernah dilwati, ini hanya satu parade yang sangat singkat dalam sebuah pentas panggung kehidupan, ini hanyalah sebuah riak kecil dari gelombang besar emosi anak manusia. kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak aktivitasku yang bisa jadi tiada berguna apalagi bermakna. Akan tetapi inilah kisahku, berguna atau tidak, mudharat apa manfaat, bermakna atau sia-sia bukanlah menjadi hal yang penting lagi setidaknya dalam kontek ini. Dan inilah kisahku. Hening menyambutku ketika pintu kamarku aku buka, kamar paling belakang yang sangat terpncil dari ruang manapun di Rumah tua ini. Kamar yang hanya "bisa" di masuki oleh orang-orang tertentu, yang yang hanya karab dengan kesunyian, hanya suara cicit tikus yang kerap terdengan menjelang azan subuh berkumandang. Kamar yang hanya menyisakan bau tak sedap, dan bau kertas-kertas lusuh yang berumur puluhan tahun. kamar ini pula yang memendam begitu banyak rahasia para pengh...